BANYUWANGI - Menjelang Hari Raya Idul Adha, warga Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi punya tradisi unik bernama mepe kasur. Tradisi mepe kasur atau menjemur kasur dipercaya bisa membuat harmonis dan langgeng hubungan pasangan suami istri (pasutri).
Tampak, tradisi mepe kasur ini dilakukan dengan menjemur kasur kapuk di halaman rumah masing-masing warga Desa Kemiren. Masing-masing rumah yang menjemur kasur saat memasuki Hari Idul Adha di bulan Dzulhijjah.
Tokoh Adat Using Desa Kemiren Adi Purwadi mengatakan, tradisi mepe kasur merupakan salah satu dari rangkaian upacara adat tumpeng sewu di Desa Kemiren yang digelar setiap minggu pertama bulan Dzulhijjah antara hari Kamis atau Minggu.
"Upacara adat tumpeng sewu bertujuan untuk mengungkapkan rasa syukur warga terhadap nikmat yang telah diberikan sang pencipta," Adi Purwadi, saat ditemui MNC Portal.
Uniknya, semua kasur yang dijemur memiliki warna yang sama yakni merah hitam, dua warna itulah yang melambangkan sebuah harmonisasi rumah tangga dengan perpaduan prinsip keberanian hingga keabadian.
"Mungkin satu-satunya desa yang punya kasur seragam dengan warna merah dan hitam. Warna hitam warna keabadian dan merah warna keberanian dan kerja keras," ucap dia.