VARIAN BA.4 dan BA.5 memang disebut lebih menular ketimbang varian Omicron. Varian ini pun merupakan turunan dari varian menular Omicron, meskipun tingkat keparahannya lebih rendah dibandingkan lainnya.
Memiliki sifat yang mudah menular, kedua varian ini juga ditambahkan ke daftar pemantauan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada bulan Maret lalu. Tidak heran jika kemudian varian ini membuat cemas banyak pihak termasuk Uni Eropa.
Menurut Badan Pencegahan Penyakit Uni Eropa (The European Union's disease prevention agency/ECDC), keduanya bisa menyebar lebih cepat daripada varian lain. Bahkan dapat menyebabkan lebih banyak rawat inap hingga kematian dan ini dinilai mengkhawatirkan oleh para ahli.
"Saya sangat prihatin," kata Dr Gregory Poland, kepala kelompok penelitian vaksin Mayo Clinic di Rochester, Minnesota, dilansir CNA Kamis (16/6/2022)
Dia menjelaskan berdasarkan data dari Afrika Selatan, subvarian BA.4 dan BA.5 memiliki kemampuan. Di mana baik menghindari kekebalan yang diberikan melalui vaksin dan infeksi sebelumnya.
Sehubungan dengan kelebihan varian BA.4 dan BA.5, juga disampaikan oleh Alexandre Ginting, Kasubbid, Dukungan Kesehatan Satgas Covid-19 Nasional. Dia mengatakan bagi mereka yang memiliki komorbid (penyakit penyerta) dan belum divaskinasi Covid-19, berkemungkinan dapat mengantarkan ke rumah sakit.
"Memang jelas bahwa varian bA.4 dan BA.5 ini dilaporkan juga memiliki kemampuan penurunan kemampuan terhadap Antibodi monoklonal jadi dia memiliki kemampuan escape," ungkap Ginting dalam Streaming YouTube FMB9ID_IKP.
Ginting menambah, varian ini muncul di Afrika Selatan, merupakan salah satu negara yang minim cakupan vaksinasi Covid-19. Selama tingkat vaksinasi rendah (timpang), menurutnya virus Covid-19 semakin bermutasi atau berkembang.
"Kita lihat di Afrika ini (varian B.1.1.529 atau Omicron) setelah omicron masuk ke berbagai negara, dia juga ikut berkembang bermutasi terus berlangsung, khususnya di negara yang vaksinasinya timpang. Afrika selatan sebagai contoh salah satu negara yang akses vaksinasinya tidak merata dan terus berkembang," tambah Ginting
(Martin Bagya Kertiyasa)