Wisata gua tersebut sudah ada sejak lama, mulai dikunjungi orang sejak era transmigrasi penduduk Jawa pada tahun 1970-an, hal itu juga yang memengaruhi nama gua, Batu Hapu artinya batu kapur dalam bahasa Jawa.
"Sudah begitu namanya dari dulu," ujar Subianto yang juga generasi masyarakat transmigran itu.
Sejak tahun itu, ternyata Gua Batu Hapu memiliki gua "rahasia" yang tidak boleh dikunjungi oleh wisatawan umum. Jumlahnya ada tiga buah, bahkan pemandu itupun tidak tahu persis isi keseluruhan gua tersebut.
"Hanya Mapala (mahasiswa pencinta alam) dan para peneliti yang pernah masuk. Tiga mulut gua ada di bawah dan jalan menuju ke sana tidak di buka," ujarnya.
Meskipun begitu, gua yang saat ini dibuka untuk umum sudah sangat memuaskan, memberikan wawasan tentang batuan dan keunikan bumi.
Di lingkungan Gua Batu Hapu masih banyak pepohonan besar dan udara yang lebih segar dibandingkan dengan di Kota Banjarmasin.
Tepat memasuki kawasan tersebut, juga ada taman dengan aneka patung binatang, rumput karpet, cocok untuk tempat santai keluarga menghabiskan akhir pekan.
Biaya masuk dipatok Rp5.000. Hasil dari retribusi tersebut pertama dibagikan untuk pemerintah daerah, setelah itu pengelola dan apabila ada lebih masuk ke kas desa.
Tidak hanya di karaoke ada pemandu, di Gua Batu Hapu pun juga ada jasa pemandu untuk wisatawan yang ingin ditemani menyusuri gua.
Pihak pengelola tidak memasang tarif alias sukarela, seikhlas wisatawan yang memakai jasa untuk memberikan upah atas waktu, tenaga dan wawasan pemandu.
Legenda
Kurang Indonesia rasanya kalau tidak ada legenda yang melekat di sebuah situs purbakala tersebut. Gua Batu Hapu disebut masyarakat sebagai pecahan kapal besar milik seorang raja bernama Angui.
Kapal tersebut berubah menjadi batu karena Angui durhaka kepada ibunya yang bernama Kudampa.
Kutukan sang ibu dipicu karena sakit hati oleh perbuatan Angui yang tidak mengakuinya sebagai orang tua setelah sukses berkarir. Hingga saat ini kisah itu masih menjadi cerita rakyat, ketika ditanya terkait asal usul Gua Batu Hapu.
"Ceritanya turun-temurun seperti itu. Tapi ya, wallahua'lam. Cerita mirip seperti kisah Malin Kundang," ujar Pengelola Gua Batu Hapu Subianto.
Cerita rakyat itu diabadikan ke sebuah beton di depan gua yang dilukis, menggambarkan peristiwa kutukan sebelum Agui beserta kapalnya menjadi batu.
Pada era modern ini, sudah ada penelitian yang menceritakan asal usul Gua Batu Hapu tersebut.