PERAYAAN yang digelar oleh masyarakat Tionghoa, kerap menarik perhatian kelompok lainnya. Nuansanya yang meriah dan penuh makna di dalamnya, membuat gelaran tersebut memberikan warna tersendiri bagi dunia.
Setelah adanya Festival Cap Go Meh dan Festival Chongyang, ada juga Festival Tiong Ciu atau dikenal juga sebagai Perayaan Kue Bulan (Mooncake Festival).
Perayaan tersebut digelar setiap tanggal 15 bulan 8 pada kalender tradisional China atau Tiongkok atau tepatnya saat bulan berada di puncaknya, serta terlihat paling terang dibandingkan hari-hari dan bulan-bulan lainnya.
Perlu diketahui, dalam bahasa Mandarin kue bulan disebut dengan tiong ciu pia. Arti dari 'Tiong' adalah tengah, 'ciu' artinya adalah musim gugur, sedangkan 'pia' adalah nama jenis kue yang berbentuk bulan dengan isi di dalamnya.
Masyarakat Tiongkok sendiri untuk memperingati perayaan tersebut, pemerintahnya menetapkan libur nasional selama tiga hari agar masyarakatnya bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga atau kerabatnya.
Lantas, mengapa kue bulan ini dijadikan festival budaya yang meriah? Apakah ada makna tersendiri di dalamnya?
Pada ribuan tahun lalu, terdapat legenda yang menyatakan, bahwa dunia ini memiliki 10 matahari. Memiliki satu matahari saja sudah panas, bagaimana jika benar ada 10, bisa jadi manusia akan mati secara perlahan karena kepanasan.
Untuk itu dari anggapan inilah ada seorang kaisar yang bernama Kaisar Yao memerintahkan seorang pemanah bernama Hou Yi untuk melumpuhkan matahari.
Kemudian kehebatan Hou Yi dalam memanah memang sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Konon katanya, Hou Yi berhasil memanah sembilan matahari dan hanya menyisakan satu matahari—matahari yang kini bisa manusia semua nikmati di pagi dan siang hari.
Oleh karena itu sebagai tanda syukur, dan terima kasih, Kaisar menghadiahkan Hou Yi sebuah hadiah kecil yang luar biasa. Ia memberikan sebuah pil ajaib yang memiliki khasiat membuat umur menjadi panjang.
Tak lama setelah itu, Hou Yi menikah dengan seorang perempuan bernama Chang E. Hou Yi memberi tahu Chang E bahwa ia memiliki sebuah pil dengan khasiat hebat itu. Akan tetapi, Chang E tidak sengaja menelan pil itu. Tiba-tiba, secara perlahan, tubuh Chang E melayang dan naik hingga ke bulan dan ia tidak bisa kembali lagi ke bumi.
Sejak hari itu, di mana hari kepergian Chang E ke bulan, masyarakat Tionghoa merayakan Festival Kue Bulan untuk memperingati hari kepergian Chang E.
(Kurniawati Hasjanah)