SELAMA pandemi Covid-19 semua pelajar harus menempuh pendidikan secara online akibat rasa takut terkena Covid-19. Perjuangan para pelajar dalam menemuh pendidikan benar-benar diuji.
Deddy Djaja Ria selaku Sinarmas World Academy General Manager menjelaskan, seperti diketahui, sektor pendidikan mengalami cukup banyak disrupsi selama dua tahun belakangan ini karena pandemi Covid-19. Semua ini mulai terjadi saat para lulusan masih berada di kelas 10 yang mana merupakan salah satu fase paling penting dalam perjalanan mereka menuju International Baccalaureate (IB) Diploma di SWA.
"Meskipun dengan keadaan yang tidak mendukung, mereka sukses menyelesaikan International Baccalaureate Middle Years Programme (IB MYP) dan IGCSE. Tiga siswa-siswi bahkan memenangkan hadiah pendanaan IB MYP Student Innovators oleh organisasi IB di Jenewa, sebuah kegiatan yang memberikan penghargaan pada penemuan yang dinilai membantu menyelesaikan masalah global," ujarnya.
MYP Personal Project menuntut pelajar guna melakukan banyak riset, percobaan, survei, dan mengaplikasikannya dengan kreatif. Para pemenang ini kemudian menggunakan pendanaan yang diperoleh untuk melanjutkan penelitian dan penemuannya sambil membangun profil akademis mereka untuk persiapan pengajuan ke universitas.
Setelah melewati tahap MYP, di sinilah perjalanan IB Diploma dimulai. Selama sekitar dua tahun, para siswa akan secara penuh menjalani metode pembelajaran yang sangat menantang. Mereka perlu secara aktif terlibat dalam berbagai gerakan dan organisasi secara nyata, meskipun saat itu kondisi mobilitas sangat terbatas karena pandemi.
Kini semuanya telah selesai dan di momen ini saatnya mereka merasakan kebahagiaan dari pencapaian mereka. Pencapaian yang dimaksud di sini mencakup adaptasi mereka dalam berbagai metode pembelajaran yang berubah-ubah, mengenai pembagian waktu yang efektif, dan perbuatan yang mereka lakukan bagi orang banyak di tengah jadwal yang padat.
"Nah berbicara tentang kelulusan, banyak orang masih beranggapan bahwa nilai yang dicapai adalah satu-satunya hal yang penting. Memang, nilai merupakan cara yang terukur untuk menentukan seberapa banyak ilmu yang mereka kuasai. Akan tetapi, saat ini, nilai yang bagus saja tidak akan cukup untuk menggapai impian, seperti masuk ke universitas terbaik dunia," terang Deddy.
Terdapat sisi lain yang sama pentingnya dengan nilai, sesuatu yang disebut dengan portfolio akademis. Universitas mencari para pelajar yang bisa membawa perubahan dan mampu menyeimbangkan antara kesuksesan akademis yang diwakili dengan nilai dan perbuatan yang nyata di lingkungan atau komunitas sekitarnya.
"Ketika kita membahas mengenai portfolio, kita membicarakan mengenai hasil yang didapatkan atau dirasakan secara langsung. Atau sederhananya, portfolio adalah realisasi bukti di bidang yang kita tekuni," ujar Deddy.
Dalam dunia yang sedang berkembang ini, lanjutnya, kata-kata “Saya akan melakukannya” sudah kalah meyakinkan dengan kata-kata “Saya sudah melakukannya.”
BACA JUGA:Usia Ideal Belajar Bahasa Mandarin untuk Anak
Ada rasa percaya yang lebih kuat kepada seorang yang telah membuat sesuatu, dibandingkan dengan orang lain yang hanya baru ingin membuat sesuatu. Makanya dalam dunia pendidikan dan kerja, nilai saja tidak cukup. Harus ada perbuatan lebih.
Salah seorang siswa, Kyra Hendarmin Husen yang diterima di Cornell University jurusan Rekayasa Biologi menjelaskan, ia telah mendedikasikan waktunya yang dipicu oleh keingintahuannya mengenai alam.
Kekagumannya pada bagaimana cara alam bekerja dan keinginannya untuk melindungi alam dan lautan menggerakkannya untuk berkolaborasi dengan teman sekelasnya dan pihak sekolah untuk menulis sebuah manuscript mengenai solusi berbasis biologi untuk menanggulangi pencemaran plastik menggunakan bakteri.
Dengan bimbingan pihak sekolah, Kyra sukses memimpin beberapa proyek riset di bidang biologi bersama rekan-rekannya dan bahkan melanjutkan riset laboratoriumnya di rumahnya pada masa pandemi.
"Eksperimen lain yang dilakukan saya adalah membuat bahan pengganti plastik yang ramah lingkungan dengan menggunakan campuran susu, cuka putih, dan natrium hidroksida," ujar Kyra.
Nah, membuat eksperimen atau penelitian nyata seperti inilah yang dibutuhkan generasi muda untuk hidup lebih maju dari generasi sebelumnya. Makanya nilai saja tidak cukup Bestie!
(Dyah Ratna Meta Novia)