Setelah mendapat rentetan jawaban, Maya merasa sekadar mempelajari Islam belum cukup untuk dirinya mengenal Sang Pencipta. Terlebih, ia meyakini bahwa Islam adalah jalan hidup yang sudah seharusnya dijadikan sebagai jati diri.
Perasaan ragu masih ada di benak Maya sehingga ia mulai menjalani komitmen dengan menjalani 'Masa Percobaan'. Ia mulai mengenakan pakaian yang lebih sopan dan secara perlahan merasa mampu menjalaninya.
Meski begitu, keraguan masih melanda lantaran ia merasa ini akan menjadi komitmen seumur hidup nya kepada Allah sehingga butuh waktu lama untuk memiliki keberanian menjadi mualaf. Terkhusus keberanian untuk memberitahu keluarga tercinta. Setelah berdiskusi panjang bersama keluarganya mereka memahami kemauan Maya.
Maya secara perlahan memiliki keinginan berhijab. Pada awalnya, ia belum memahami konsep Islam dan apa keperluan hijab bagi muslimah. Ia pun bertanya dan seorang teman menjawab konsep hijab dengan analogi permen yang dibungkus dan tidak dibungkus. Perlahan tapi pasti, Maya memahami konsep hijab dan mencoba mengenakannya.
Namun, ketika Maya memberitahu sang ibu, ia mendapat cemooh dengan tangisan ibu di hadapannya. Melihat ibunya menangis lantaran ia memakai hijab, membuat Maya merasa sakit.
Terlebih, sang ibu menyebut jika hijab hanyalah bentuk penindasan pada perempuan. Maya pun memilih diam lantaran meski sudah memahami konsep hijab, Maya belum mampu mengatakannya secara jelas dan detail.
Hal itu pula yang akhirnya membulatkan tekad Maya untuk memakai hijab dan keluar dari rumah. Hingga akhirnya, ujian dari Allah itu berhasil diatasinya di momen wisuda.
(Salman Mardira)