BAGI traveler yang langganan melewati kawasan Jembatan Kali Sewo pasti sudah tak asing lagi dengan kehadiran pengemis sapu lidi. Jembatan perbatasan antara Indramayu dan Kabupaten Subang, seolah sudah beralih fungsi menjadi ladang rezeki bagi warga sekitar.
Mulai dari anak-anak hingga lansia pun tak ingin ketinggalan mengais recehan dari para pelintas. Sesuai julukan mereka yakni 'Pengemis Sapu Lidi' , mereka tak tangan dengan tangan kosong, melainkan membawa sapu lidi bergagang panjang.
Ketika ada mobil yang membuka kaca dan meleparkan koin, para pengemis sapu lidi akan sigap menunggu. Mereka begitu gesit menyeret koin tersebut menggunakan sapu lidi.
Perlu diingat pula, jumlah pengemis sapu lidi tak hanya hitungan jari. Jika dihitung mungkin bisa mencapai puluhan atau bahkan ratusan.
Untuk itu lah, pengemudi mobil pribadi, bus, hingga truk perlu berhati-hati dan sebisa mungkin memperlambat laju kendaaraan.
Mitos Jembatan Sewo Indramayu
Kebiasaan warga mengemis pakai sapu lidi ini tidak datang secara tiba-tiba. Konon, ada kisah pilu dibalik itu yang menjadi cikal bakal kegiatan tersebut.
Kisah pertama berkaitan dengan kecelakaan dari sebuah mobil. Entah bagaimana kronologi pastinya, mobil tersebut dikabarkan terjun ke sunga saai melintasi Jembatan Sewo.
Dari peristiwa malang itu, para pelintas Jembatan Sewo percaya bahwa satu cara untuk menghindari mereka dari mara bahaya adalah melempar uang. Lambat laun, kebiasaan itu pun seolah dianggap tradisi dan para akhirnya segelintir warga menjadikan uang-uang itu sebagai penghasilan tambahan, terutama saat hari lebaran tiba.