DARI survei serologi yang dilakukan Kementerian Kesehatan bersama Kementerian Dalam Negeri dan Tim Pandemi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) menunjukkan, antibodi masyarakat Indonesia sudah hampir mencapai 90 persen. Hal ini memunculkan harapan akan adanya herd immunity di Indonesia.
Dalam konferensi pers bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terkait survei serologi nasional, ahli Epidemiolog Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI), Prof. dr. Pandu Riono, MPH, Ph.D menerangkan, herd immunity lebih mudah terbentuk pada virus yang tidak cepat bermutasi.
"Jadi konsep herd immunity asumsi kita menghadapi suatu virus relatif yang tidak berubah secara cepat sehingga imunitas bisa dikejar," kata Prof Pandu dalam YouTube Kemenkes.
Dia menambahkan, kalau situasi sekarang Indonesia dihadapi virus SARs-COV-2 atau Corona. Virus yang faktanya cepat berevolusi atau berkembang dapat melahirkan varian-varian baru, salah satunya Omicron.
"Menghadapi SARs-COV-2 yang evolusinya tidak pernah berhenti waktu dan kecepatan variasinya itu tidak relevan. Khawatirnya bermutasi bisa menghindar dari imunitas, ini yang sementara Omicron dari escape imunitas," jelasnya,
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan capaian herd immunity memiliki rumus. Jadi tidak bisa dikatakan ketika tingkat antibodi mencapai 86,6 persen, maka herd immunity sudah terbentuk.
Oleh karena itu, Menkes menyebut pemerintah tidak lagi berfokus pada konsep herd immunity, namun antibodi atau sistem kekebalan tubuh masyarakat bisa terbentuk. Rumus terbentuknya herd immunity di suatu negara karena tergantung pada positivity rate, efikasi vaksin dan rate varian virusnya.
"Herd Immunity itu ada rumusnya, tergantung dari reproduction rate di negara itu, efikasi vaksinnya, reproduction rate variannya. Jadi kalau ada datanya yang dikejar bukannya konsep herd immunity jadi kekebalan masyarakat tadi," kata Menkes Budi
(Martin Bagya Kertiyasa)