Setelah itu, sejumlah negara satu demi satu mendeteksi virus rekombinan tersebut.Sejauh ini, para peneliti belum secara resmi menamai virus rekombinan tersebut.
Pada 9 Maret, Dr. Maria Van Kerkhove, kepala teknis Program Darurat Kesehatan WHO, mengatakan dalam konferensi pers bahwa WHO "belum melihat adanya perubahan dalam epidemiologi dengan rekombinan ini, kami belum melihat adanya perubahan pada tingkat keparahan, tetapi ada banyak penelitian yang sedang berlangsung."
BACA JUGA:Kabar Baik! Belum Ada Kasus Varian Deltacron di Indonesia, Pemerintah Terus Pantau
Kerkhove menegaskan kembali, "Pandemi masih jauh dari selesai dan kita tidak hanya perlu fokus pada menyelamatkan nyawa manusia dan mengurangi penyakit parah serta kematian, kita juga harus fokus untuk mengurangi penyebarannya."
(Dyah Ratna Meta Novia)