Temuan ini, tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin, usia, ras, pendapatan rumah tangga, pendidikan orang tua, atau karakteristik sosial ekonomi lingkungan mereka.
"Mengejutkan bahwa paparan ozon dengan tingkat rendah pun memiliki efek yang berpotensi berbahaya," kata Manczak.
Lebih lanjut, sambungnya, ozon dan komponen lain dari polusi udara dapat berkontribusi pada peradangan tingkat tinggi dalam tubuh. Di mana ini telah dikaitkan dengan timbulnya dan perkembangan depresi. Remaja mungkin sangat sensitif terhadap efek ini karena mereka menghabiskan lebih banyak waktu di luar ruangan.
Penelitian ini mencakup ukuran sampel yang relatif kecil dari satu wilayah di Amerika Serikat. Temuan tersebut juga korelasional, sehingga tidak dapat dibuktikan bahwa kadar paparan ozon menyebabkan peningkatan gejala depresi secara langusng.
Hanya saja, ada keterkaitan di antara keduanya. Namun, dimungkinkan juga adanya komponen lain dari polusi udara yang memicunya, selain paparan ozon bisa menjadi salah satu faktor.
Oleh karenanya, Manczak menambahkan, karena polusi udara secara tidak proporsional dapat mempengaruhi komunitas yang terpinggirkan, tingkat paparan ozon dapat berkontribusi pada kesenjangan kesehatan.
Menurutnya, masyarakat juga harus mempertimbangkan cara untuk mengurangi paparan ozon secara langsung, seperti rutin olahraga di dalam ruangan, khususnya bagi para remaja.
(Ahmad Muhajir)