GUA Matu yang berada di Desa Way Sindi Hanuan, Kecamatan Karya Penggawa, ternyata menyimpan cerita mistis.
Juru kunci Gua Matu bernama Makmur mengatakan, tempat tersebut adalah tempat sakral yang dijadikan lokasi pertemuan 12 kerajaan laut.
Makmur menambahkan, Nyi Roro Kidul sering mengunjungi gua itu untuk melakukan pertemuan dengan kerjaan lain.
"Jika Kanjeng Nyi Roro Kidul datang, laut di sekitar akan membesar dikarenakan kereta kudanya bersandar,” kata Makmur.
Nama Gua Matu sendiri berarti goa batu dimana goa tersebut ditemukan oleh kakek moyang dari Makmur yang bernama bernama Sawaluddin pada masa penjajahan Inggris.
Setelah melakukan semedi di goa tersebut Sawaluddin bertemu dengan Tuyuk Dewa Pangeran Hyang yang memimpin 12 Kerajaan Matu dan istrinya Permaisuri Ratu Putri Gudung Sakti serta panglimanya bernama Poyang Panglima Haji Saleh.
Saat sampai di depan goa kita tidak bisa langsung masuk begitu saja juru kunci akan meminta izin terlebih dahulu kepada makhluk gaib yang ada disana.
Jika diizinkan kita baru diperbolehkan masuk . Setelah masuk, maka situasi mencekam akan sangat terasa.
Bau khas dari kotoran kelelawar menyengat ditambah suasana yang gelap dari dalam gua menambah kesan mistis sejauh mata memandang tak terlihat ujung dari goa tersebut.
Kita hanya dibawa memutar dari tempat pertama masuk goa yang merupakan jendela dan keluar di pintu utama goa tersebut yang menghadap langsung ke laut lepas.
Di sisi lain kita tidak diperbolehkan untuk masuk dikarenakan alasan keselamatan karena untuk masyarakat awam hal tersebut akan berbahaya.
Menurut juru kunci wujud nyata dari makhluk gaib itu biasanya menjelma sebagai ular, biawak dan kelelawar.
Untuk mengunjungi tempat tersebut wisatawan diharapkan dapat menjaga etika dan tata krama serta tidak sembarangan berbicara kotor.
Karena hal tersebut bisa mengganggu makhluk gaib yang bersemayam di sana dan tentu agar selalu berhati-hati supaya tidak ada kejadian yang tidak diinginkan.
Terlepas percaya atau tidak hal itu kembali kepada diri sendiri tentu di manapun kita berada kita harus menjunjung tinggi adat dan budaya karena itu merupakan kekayaan alami yang dimiliki rakyat Indonesia.
(Kurniawati Hasjanah)