KONDISI mati mesin atau engine failure saat melakukan penerbangan masih menjadi momok yang menakutkan. Penumpang mungkin mengira ketika mesin pesawat mati karena suatu masalah, hal ini berarti pesawat akan langsung terjun bebas.
Apakah benar seperti itu? perlu diingat bahwa pesawat merupakan moda transportasi paling aman. Kasus kecelakaan pesawat pun terbilang paling rendah jika dibandingkan dengan moda transportasi lainnya.
Hal ini tentu saja disebabkan oleh teknologi pesawat yang canggih sehingga mampu memprediksi segala kemungkinan penyebab kecelakaan pesawat seperti cuaca, kepadatan udara, ketinggian permukaan tanah, dan lain-lain.
Melansir dari YouTube Mesin Terbang, pesawat juga dilengkapi teknologi untuk membaca segala parameter sistem kontrol dan permesinan.
Mesin pesawat merupakan penyedia daya utama saat terbang di udara. Adapun mesin pesawat mencangkup daya listrik maupun daya dorong. Untuk diketahui, daya dorong berfungsi meningkatkan kecepatan aliran udara yang mengalir pada kedua permukaan sayap untuk mengahsilkan daya angkat.
Ketika daya dorong hilang, hal ini akan memicu hilangnya daya angkat pada pesawat. Meski demikian, daya angkat pesawat tidak akan hilang saat itu juga. Ya, daya angkat akan berkurang periodik seiring berkurangnya kecepatan pesawat.
Selanjutnya, badan dan sayap pesawat memiliki design aero dinamis dengan sistem kerja menyerupai burung yang sedang terbang. Ketika insiden mati mesin terjadi, pesawat masih bisa melayang berkat design sayap aero dinamis.
Saat pesawat mengalami mati mesin, daya listrik masih dipasok oleh auxiliary power unit (APU) yang berada pada ekor pesawat. Tapi ada kalanya juga menemui kondisi darurat yang mana APU pun tak dapat berfungsi dengan baik.
Jika sudah begitu, pasokan daya listrik akan disediakan oleh Ram Air Turbine atau RAT. Hal ini berguna untuk mejaga agar sistem komunikasi dan sistem kontrol pesawat terus aktif.
Penumpang tak perlu khawatir, selain pesawat sudah didesain seaman mungkin, pilot yang ditugaskan pun sudah terlatih dengan baik menangani kemungkinan buruk. Selama pilot masih dapat mengontrol pergerakan aileron, elevator, dan rudder, maka pendaratan darurat dapat dilakukan.
(Kurniawati Hasjanah)