Berusia Satu Abad, Yuk Coba Sensasi Minum Jamu Ginggang Pakualaman untuk Jaga Kesehatan

Kuntadi, Jurnalis
Jum'at 04 Februari 2022 13:05 WIB
Jamu Ginggang Pakualaman (dok iNews/Kuntadi)
Share :

YOGYAKARTA -  Pandemi Covid-19 mampu membangkitkan industri jamu tradisional di Kota Yogyakarta. Banyak konsumen memburu jamu tradisional untuk meningkatkan imunitas dan menjaga kesehatan. Minum jamu merupakan salah satu budaya yang dilakukan masyarakat Jawa.

Tradisi ini sudah ada sejak nenek moyang dulu. Hanya saja dalam perkembangannya jamu kalah dengan minuman kekinian, yang mengadopsi minuman dari negara asing.

Salah satu kedai jamu yang masih bertahan, adalah kedai jamu Ginggang yang ada di Pakualaman, Yogyakarta.

Kedai ini sudah berusia lebih dari satu abad. Kedai ini kini dikelola oleh generasi kelima.

BACA JUGA:12 Kuliner Legendaris Purwokerto yang Wajib Dicoba, dari Mendoan hingga Jenang
BACA JUGA:Uniknya Kue Nastar 3 Dimensi Karakter Macan Air, Kuliner Imlek yang Laris Manis di Bali

“Di sini konsumen bisa langsung mencicipi dan minum langsung,” kata Yayuk, salah satu pembuat jamu. 

Yayuk menekuni usaha ini warisan dari kakek buyutnya. Berbeda dengan kedai jamu dulu, kini diseting lebih rapi dan nyaman layaknya kafe. Harapannya konsumen bisa betah dan kembali menyukai minum jamu. Jamu merupakan minuman yang dipercaya memiliki khasiat untuk kesehatan.

Selain meningkatkan daya tahan tubuh, juga dipercaya bisa mengobati berbagai penyakit. Seperti masuk angin, sakit perut, diare, batuk dan berbagai penyakit lainnya.

“Jamu Ginggang ini sudah sejak 1925, ini usaha turun temurun yang dikelola keluarga dari Mbah Joyo sebagai perintis pertama,” katanya.

Jamu Ginggang dulu merupakan minuman yang hanya diberikan kepada abdi dalem Pakualaman. Mbah Joyo merupakan salah satu abdi dalem yang diberi kepercayaan untuk meracik jamu kepada semua kerabat Kadipaten Pakualaman.

Seiring berjalannya waktu, jamu ini diperjual belikan kepada masyarakat luas. Jamu Ginggang berasal dari kata Genggang yang bermaksa tansah genggah yang berarti tercipta persahabatan dan kekeluargaan agar tidak ada jarak antara kerabta Keraton dengan masyarakat.

Nama ini disematkan oleh KGPAA Pakualam VII.

“Kami buka dari pukul 08.00 WIB sampai dengan pukul 20.00 WIB,”ujarnya.

Satu gelarnya dibanderol dengan harga Rp6.000 sampai dengan Rp25.000 tergantung jenisnya. Mulai dari beras kencur, kunyit asam, hingga galian singset dan sehat pria.

Salah seorang pelanggan Lya mengaku sudah beberapa tahun menjadi pelanggan di kedai Jamu Ginggang. Menurutnya jamu ginggang lebih alami dan rasanya lebih nikmat dibandingkan jamu yang ada di pasaran.

“Rasanya lebih mantap di banding jamu serupa di pasaran,” ujarnya.

Hampir setiap bulannya, Lya selalu mampir ke kedai ini untuk mencicipi jamu.

Alasannya untuk menjaga kesehatan agar tidak mudah sait dan kecaoekan.

“Saya lebih percaya yang tradisional ini kan herbal jadi lebih aman," ujarnya.

(Kurniawati Hasjanah)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya