Pertama Kali Mesir Pamer Mumi Firaun Secara Digital, Tertarik Lihat?

Tim Okezone, Jurnalis
Jum'at 31 Desember 2021 10:02 WIB
Mumi Amenhotep I (dok New Scientist/ S.Saleem dan Z Hawaas)
Share :

JAKARTA - Mesir akhirnya memamerkan hasil digital mumi Firaun Amenhotep I untuk pertama kalinya sejak ditemukan pada 1881.

Melansir Xinhua, peneliti menggunakan citra tiga dimensi (3D) digital untuk menampilkan sosok Firaun.

Dihiasi dengan karangan bunga dan topeng kayu yang menawan, mumi itu sangat rapuh sehingga para arkeolog tidak pernah berani membuka jasad secara manual.

Hal itu menjadikannya satu-satunya mumi kerajaan Mesir yang ditemukan pada abad ke-19 dan ke-20 yang belum dibuka untuk dipelajari.

Menggunakan teknik digital non-invasif, para ilmuwan Mesir telah menggunakan pemindaian computerized tomography (CT) tiga dimensi untuk mempelajari mumi berusia 3.500 tahun itu dan mempelajari isinya.

Baca Juga:

Tradisi Menikah dengan Pohon di India demi Hilangkan Sial

Tips Aman Nginap di Hotel ala Pramugari, Lakukan Ini Sebelum Masuk Kamar!

"Dengan membuka bungkusan secara digital dan 'mengupas' lapisan virtualnya, masker wajah, perban, dan mumi itu sendiri, kita dapat mempelajari raja yang terawetkan dengan baik ini dengan detail yang belum pernah terjadi sebelumnya," papar Sahar Saleem, profesor radiologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Kairo dan ahli radiologi Proyek Mumi Mesir.

Mumi raja itu menunjukkan tengkorak dan kerangkanya menyusut di dalam perban.

Saleem dan rekan-rekannya menemukan, Amenhotep I berusia sekitar 35 tahun dan tinggi 169 sentimeter (5,5 kaki) ketika dia meninggal. Dia juga disunat dan memiliki gigi yang sehat.

Sekitar 30 jimat dan ikat pinggang emas unik ditemukan di dalam bungkusnya.

Firaun juga memiliki dagu yang sempit, hidung kecil yang sempit, rambut keriting, dan gigi atas yang sedikit menonjol, kata Saleem.

Studi mereka tidak menemukan luka atau cacat yang menjelaskan penyebab kematiannya.

Amenhotep I memerintah Mesir selama sekitar 21 tahun, antara 1525 dan 1504 SM.

Dia adalah raja kedua dari Dinasti ke-18 dan memiliki pemerintahan yang damai di mana dia membangun banyak kuil. Para peneliti juga menemukan bahwa mumi tersebut menderita beberapa luka postmortem yang kemungkinan disebabkan oleh perampok makam kuno.

Berdasarkan teks hieroglif, para pendeta dan pembalsem kemudian mencoba memperbaikinya pada Dinasti ke-21 atau lebih dari empat abad setelah mumi pertama kali dimakamkan.

Sebelum mempelajari mumi, Saleem mengira para pendeta dan pembalsem yang disebutkan dalam teks mungkin telah membuka mumi untuk mengambil kembali beberapa barang seperti jimat untuk digunakan lalu menjadi praktik umum pada saat itu. Namun, Saleem menyatakan hal itu tidak terjadi.

(Kurniawati Hasjanah)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya