PEMERINTAH telah membatalkan kebijakan PPKM Level 3 untuk semua wilayat saat libur Nataru. Tapi, pemerintah memastikan akan melakukan pembatasan secara umum dan memasifkan testing dan tracing.
Dengan tidak memberlakukan PPKM Level 3 di semua wilayah, artinya masih ada celah yang dapat memicu kerumunan atau setidaknya mobilitas warga tetap terjadi di libur Nataru. Lantas, apakah ini memicu munculnya gelombang ketiga?
Epidemiolog Griffith University Australia Dicky Budiman menerangkan bahwa ada kombinasi maut dalam situasi pandemi Covid-19, yang mana salah satu efeknya adalah lonjakan kasus atau gelombang ketiga.
Pertama adalah adanya varian serius yang memiliki karakteristik cepat menular, seperti varian Delta misalnya. Terlebih, saat ini muncul Omicron yang mengancam semua negara.
Baca Juga : Pemerintah Batal Terapkan PPKM Level 3 saat Libur Nataru, Begini Tanggapan Epidemiolog
Lalu, dikombinasikan dengan mobilitas orang yang banyak dan tidak terkendali, kemudian tidak memiliki proteksi yang baik seperti abai masker, abai jaga jarak, abai kapasitas suatu tempat, tidak memiliki imunitas yang memadai dalam hal ini vaksin, mungkin vaksin belum dosis kedua, bahkan beberapa belum di-booster khususnya lansia yang rawan.
"Nah, yang memperparah lagi adanya Omicron yang menjadi kombinasi tepat untuk memicu ledakan kasus," terang Dicky melalui pesan singkat, Selasa (7/12/2021).
Baca Juga : Bahas Varian Omicron, Dokter Tirta: Waspada Boleh, Panik Jangan
Lagipula, sambung Dicky, sebelum Omicron muncul ahli sudah memprediksi adanya gelombang ketiga. Apa alasannya?