EasyJet melaporkan kerugian utama sebelum pajak sebesar USD1,5 miliar (Rp21 miliar) untuk tahun ini hingga akhir September. Sementara SAS tetap berada di zona merah pada kuartal Agustus hingga Oktober.
Maskapai itu mengklaim, sulit untuk mengukur dampak dari varian baru. Kekhawatiran terhadap virus corona masih memengaruhi para pelancong.
Baca juga: Mantan Pramugari Maskapai Italia Lepas Seragam hingga Tersisa Pakaian Dalam
"Kami melihat ada dampak, terutama pada keberangkatan jangka pendek. Tetapi tidak pada tingkat dampak dan penurunan yang sama seperti yang kami lihat sebelumnya," kata Chief Executive EasyJet, Johan Lundgren.
Baik EasyJet dan SAS mencatat bahwa ada keinginan yang kuat untuk bepergian ketika pembatas jalan ditiadakan.
(Rizka Diputra)