Lambat laun, kaum wanita di istana mulai meniru dan mengikat kaki mereka seperti Yao Niang. Semakin lama diikat, kaki mereka menjadi lebih kecil. Mereka pun menjadikannya sebagai simbol status sosial.
Fungsi dari tradisi ini berawal dorongan modis yang kemudian berubah menjadi ekspresi identitas orang-orang Han (suku mayoritas di China), setelah Mongol menginvasi China tahun 1279.
Wanita China menjadikan praktik tersebut menjadi semacam kebanggaan etnis.
Namun, tradisi tersebut mulai pudar di awal abad ke-20 ketika para misionaris dan reformis mengkampanyekan ideologi mereka.
Langkah ini diikuti oleh pemerintah nasionalis dan para pemimpin komunis yang akhirnya melarang praktik kaki teratai.
(Kurniawati Hasjanah)