SEIRING dengan berkurangnya jumlah mereka yang positif Covid-19, pemerintah pun menurunkan level PPKM di beberapa tempat. Kegiatan-kegiatan yang tadinya dilarang pun akhirnya kembali dibuka, salah satunya adalah Pembelajaran Tatap Muka (PTM).
Memang, PTM harus dilakukan lantaran adanya risiko learning loss (ketertinggalan pembelajaran). Pasalnya, efek pembelajaran jarak jauh (PJJ) dinilai kurang optimal bagi para siswa.
Tentunya pembukaan kembali PTM tidak dilakukan secara sembarangan. Pemerintah telah melakukan perhitungan matang untuk mencegah munculnya klaster penularan Covid-19 di sekolah saat PTM terbatas dilaksanakan.
Merangkum dari laman Instagram resmi Komite Percepatan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi (KPCPEN), @lawancovid19_id, Kamis (30/9/2021), strategi 3M dan 3T masih menjadi andalan pemerintah saat ini. Berikut strategi pengendalian Covid-19 saat PTM terbatas di sekolah, yuk disimak.
1. Strategi protokol kesehatan, perubahan perilaku atau 3M yang meliputi mencuci tangan pakai sabun, memakai masker, dan menjaga jarak.
2. Strategi deteksi atau surveilans maupun 3T (testing, tracing, treatment) dengan cara:
Pastikan pelaksanaan tes acak di satuan pendidikan
Integrasi aplikasi PeduliLindungi pada satuan pendidikan
Adapun indikator positivity rate untuk penyesuaian kebijakan PTM terbatas ialah:
1. Sekolah dengan positivity rate < 1 persen
Deteksi pihak yang positif Covid-19 untuk dikarantina dan yang kontak erat diisolasi.
Sekolah tetap berjalan.
2. Sekolah dengan positivity rate 1 - 5 persen
Anggota rombongan belajar dites dan dikarantina.
PTM terbatas tetap berjalan.
3. Sekolah dengan positivity rate > 5 persen
Seluruh anggota sekolah dites dan dikarantina.
PTM terbatas dihentikan sementara, pembelajaran jarak jauh (online) dilakukan selama 14 hari atau dua minggu.
(Martin Bagya Kertiyasa)