Prof Ari sendiri juga pernah terpapar Covid-19 tahun lalu dan sempat mengalami badai sitokin saat menjadi penyintas. "Seluruh pengalaman saya dituliskan dalam bentuk case report (self reported case) dan dipublikasi di jurnal Q3 agar menjadi pelajaran teman sejawat dokter dalam menangani kasus Covid-19," tambahnya.
Baca Juga : Deddy Corbuzier Sempat Kritis Kena Badai Sitokin, Ini Penjelasan Dokter Gunawan
Prof Ari menerangakn, salah satu obat utama yang dipercaya dapat menangani badai sitokin pasca-Covid-19 ialah Tocilizumab. Namun, ia menyayangkan bahwa stok obat ini masih kurang di Indonesia dan juga di tingkat global. "Padahal obat ini efektif menghambat dan menangani sindrom badai sitokin," terangnya.
Tocilizumab sendiri merupakan antibodi monoklonal & antagonis reseptor IL-6 untuk menghambat IL-6, sehingga kondisi pasien yang mengalami badai sitokin tidak bertambah buruk dan membaik.
Prof Ari menambahkan, Badan Kesehatan Dunia (WHO) sudah merekomendasikan obat ini untuk kasus berat dan kritis. "Sebab, obat ini dapat mengurangi kematian dan menekan penggunaan ventilator pada kelompok pasien tersebut," katanya.
(Helmi Ade Saputra)