OLIMPIADE Tokyo 2020 dihelat tanpa penonton. Hanya staf ataupun rekan atlet yang boleh menyaksikan dari tribun penonton. Kebijakan ini sejalan dengan masih mewabahnya covid-19 secara global, termasuk di Kota Tokyo, Jepang.
Tidak adanya penonton ternyata menyita perhatian beberapa pakar psikologi untuk berkomentar. Mereka menyoroti efek kehadiran penonton bagi sang atlet yang sedang bertanding.
Baca juga: Ini Alasan Wajib Jalankan Prokes Ketat meski Sudah Divaksin
Ya, sudah banyak bukti menerangkan bahwa semangat yang disalurkan penonton menjadi semacam cambukan untuk si atlet agar lebih keras berusaha mengalahkan lawan.
Tapi, apakah benar keriuhan dan teriakan penonton memberi dampak pada psikologis atlet yang berlaga? Atau, itu hanya persepsi dari masyarakat umum?
"Di stadion yang dipenuhi penonton, keriuhan biasanya menjadi penambah energi untuk si atlet agar dirinya terus terdorong memberikan performa yang baik," kata sports mental conditioning coach Roger Kirtz, seperti dikutip dari laman Huffpost, Selasa (3/8/2021).
Sementara Bruce Walker, profesor psikologi dan komputasi interaktif yang memimpin Sonification Lab di Georgia Institute of Technology, menilai kebisingan kadang menjadi penghalang si atlet berkonsentrasi.
"Beberapa atlet malah lebih suka tenang dan sebisa mungkin menghindari kebisingan yang terjadi akibat riuhnya penonton," ungkapnya.
Baca juga: 7 Langkah Terhindar dari Covid-19 saat Terima Paket
Meski ada dua kemungkinan yang dikemukakan dua ahli psikologi itu, tidak bisa dimungkiri bahwa fenomena penonton menyumbang semangat itu diamini banyak negara. Sebab, tak ayal riuhnya penonton itu penting bagi si atlet.
"Ada orang yang kinerjanya makin baik jika ada orang lain di sekitarnya. Secara umum, atlet-atlet dunia itu cenderung tampil lebih baik di tengah kerumunan orang daripada saat sendirian. Tapi sekali lagi, ini tidak berlaku untuk semua atlet," tegas laporan Huffpost.