Benarkah Covid-19 Tidak Bisa Hilang Sepenuhnya? Ini Penjelasan Ahli

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis
Senin 26 Juli 2021 07:55 WIB
Ilustrasi pandemi covid-19. (Foto: Okezone)
Share :

Apakah ini berarti kita harus divaksin berulang kali, sama seperti vaksin flu?

Virus punya "misi" tersendiri: menyebarkan diri ke sebanyak mungkin orang. Oleh karena itulah, mutasi virus adalah hal yang biasa.

"Dari sudut pandang evolusi, virus ini butuh bermutasi supaya dia bisa menyebar ke lebih banyak orang. Virus yang berhasil adalah virus yang menyebar dengan mudah," Trudy Lang, Profesor Kesehatan Global di Oxford University, menjelaskan.

Mutasi virus-virus flu sangat umum terjadi, sampai-sampai komposisi dari vaksin flu ditinjau ulang oleh jejaring badan kesehatan setiap tahun. Ada pula berbagai penyakit lain, seperti tetanus, yang membutuhkan dosis booster sepanjang hidup kita.

Sejauh ini, virus corona telah berkembang menjadi setidaknya empat varian besar - termasuk yang paling mudah menular, varian Delta.

Baca juga: Ketua IDI Ungkap Kesalahan Umum saat Isolasi Mandiri: Ketika ke RS Sudah Terlambat 

Varian ini pertama kali teridentifikasi di India dan saat ini menjadi alasan lonjakan kasus di Eropa, Asia, dan Amerika.

Statistik menunjukkan, vaksinasi manjur melawan Delta.

Sebagai contoh, data terakhir dari Layanan Kesehatan Inggris menunjukkan bahwa 82% dari seluruh pasien yang terinfeksi varian ini di antara Februari sampai Juni dan membutuhkan perawatan di rumah sakit belum divaksin atau baru divaksin satu dosis.

Oleh karena itu, Layanan Kesehatan Inggris (NHS) telah merencanakan dosis ketiga atau booster vaksin sebelum musim dingin, yang akan diberikan kepada lebih dari 30 juta orang.

Di Amerika Serikat, Institut Kesehatan Nasional telah memulai uji klinis dengan orang-orang yang sudah divaksin penuh untuk mempelajari apakah suntikan booster akan menambah antibodi dan memperpanjang proteksi.

Kenyataannya, para ilmuwan masih belum tahu berapa lama imunitas dari vaksin Covid-19 yang ada sekarang bisa bertahan. Ini disebabkan, seluruh vaksin masih baru dan para peneliti masih menganalisis respons imun tubuh pada tipe-tipe vaksin berbeda.

"Belum ada yang tahu apakah kita butuh vaksin secara terus-menerus," ujar Profesor Heymann. "Covid-19 adalah virus yang berbeda dengan flu, dan merupakan kesalahan membuat orang berpikir sebaliknya pada saat ini."

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya