Epidemiolog UI: Klaim Ivermectin Bisa Gantikan Vaksin Sudah Kelewat Batas!

Pradita Ananda, Jurnalis
Jum'at 02 Juli 2021 22:34 WIB
Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)
Share :

SIMPANG siur obat ivermectin akhirnya terjawab, setelah sebelumnya diklaim sebagai pengganti vaksin. Pasalnya, sebelumnya beredar kabar bahwa obat ivermectin dapat mengobati pasien Covid-19, sehingga vaksin tidak lagi diperlukan.

Padahal Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) baru melakukan uji klinis obat anti-parasit tersebut. Ivermectin sendiri adalah obat yang cukup berbahaya jika dikonsumsi tidak sesuai takaran.

Epidemiolog UI, dr. Pandu Riono, MPH,Ph.D. mengatakan, Ivermectin sebenarnya adalah anti parasite. Oleh karenanya, obat ini tidak bisa menggantikan vaksin Covid-19. Sayangnya, PT Harsen menyebut bahwa obat ini bisa menggantikan vaksin.

“Bahkan dalam suatu pertemuan antara PT Harsen dengan suatu kelompok mengatakan obat ini mampu mencegah dan juga bisa menggantikan vaksin. Wah ini menurut saya sudah jadi sesuatu yang melampaui batas," ujar dr. Pandu Riono, ketika konferensi pers Penggunaan dan Pengawasan Peredaran Ivermectin Badan POM, Jumat (2/7/2021).

"Bahwa belum ada evidence (bukti), sudah demikian klaimnya,” tambahnya.

Dokter Pandu memperingatkan masyarakat, bahwasanya obat Ivermectin ini masuk dalam kategori obat keras dan dikonsumsi dengan harus menyertakan resep dokter alias tak bisa sembarangan langsung dibeli bebas di pasaran.

“Pengertiannya, obat ini bisa merugikan, harapannya bisa memberikan manfaat. Tapi bisa juga merugikan kalau pemakaiannya tak sesuai dengan aturan dan indikasi, dosis, dan berapa lama pemakaiannya," tutur dia.

"Seharusnya yang tahu adalah tenaga kesehatan, dan tidak semua nakes tahu juga sebenarnya,” imbuhnya.

Merujuk pada sifat obat Ivermectin sebagai obat keras dan belum ada bukti yang menunjukkan efektivitas, Dokter Pandu memperingatkan masyarakat jangan langsung mudah tergoda dengan rumor yang beredar.

“Kita harus skeptis, jangan langsung mudah percaya, jangan percaya dengan klaim-klaim obat yang belum tentu benar tanpa riset dan penelitian yang baik dan terpercaya,” tutup dr. Pandu.

(Martin Bagya Kertiyasa)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya