Pengendara yang baru pertama kali melintas disarankan harus extra hati-hati saat berkendara, karena terdapat sejumlah tanjakan penuh bebatuan dan turunan curam dengan jalan penuh lubang dan batu disana sini. Mendebarkan memang, namun pemandangan yang indah sepanjang jalan menuju Curug Toma cukup untuk menghalau rasa was-was itu.
"Tiba di Desa Ramea kami disambut dengan sebuah gapura ucapan ‘Selamat Datang di Kawasan Desa Ramea Curug Tomo Lewi Bumi’. Memang di kawasan ini ada dua lokasi wisata alam yakni Curug Tomo yang lebih dulu dikenal masyarakat setempat dan tak begitu jauh lokasinya terdapat wisata alam yang dikenal dengan Turalak Lewi Bumi," katanya.
Tertera juga pada petunjuk arah yang terdapat disitu berjarak sekitar 700 meter. Akan tetapi akses jalannya hanya bisa dilalui kendaraan roda 2 saja atau kalau pun mau berjalan kaki bisa ditempuh selama sekira 10-20 menit.
Jadi jalur tracking yang dilalui sepertinya tidak ekstrem dan tidak panjang pula rupanya. Hal ini juga menjadi harapan, karena sesungguhnya Ade dan keluarga tidak begitu terlatih jika harus melalui jalur tracking ekstream dan panjang pula.
Berbeda dengan sepeda motor yang memiliki area parkir khusus di lokasi dekat Curug Tomo, mobil akhirnya diparkir di halaman rumah salah seorang warga setempat, karena memang tidak ada parkir secara khusus untuk untuk kendaraan roda 4.
Sebelum melanjutkan berjalan kaki, tidak lupa Ade dan keluarga menyempatkan berfoto bersama pemilik rumah yang tempat mobil kami parker, beserta ibu-ibu warga sekitar sekedar untuk kenang-kenangan.
Karena sudah ingin segera sampai ke lokasi, keluarga ini pun bersegera berjalan kaki melewati jalan mulus menurun dari paping blok. Selama berjalan kaki, sesekali berpapasan dengan warga setempat dari arah berlawanan yang menanjak mulus menggunakan sepeda motornya, dan akhirnya sampai pada batas akhir jalan paping blok yakni di Kampung Pasir Ceungal Cikupa, tempat dimana terdapat area parkir kendaraan roda 2 yang diorganisir oleh penduduk setempat.
"Dari sini kami harus berjalan menuruni lereng dengan kontur tanah merah sejauh 200 meter. Jalanan juga agak licin karena semalam turun hujan, sehingga kami berlima harus lebih hati-hati saat melangkah," katanya.
Sampailah di Curug Tomo sekira pukul 08.00 WIB dengan disambut suara gemericik air dan pancaran hangat cahaya matahari pagi, pemandangan alam air terjun yang luar biasa indah dan sejuk mempesona, asri dan bersih, airnya bening dan terasa dingin ketika kami sentuh. Curug juga dikelilingi oleh pepohonan yang menjulang tinggi. Ini ibarat "surga kecil di dunia" yang ada Kabupaten Pandeglang.
"Kami adalah pengunjung pertama yang tiba saat itu. Awal pertama yang kami lakukan adalah beristirahat sejenak sekaligus mengisi perut yang sudah lapar. Oleh karena itu kami langsung membuka bekal sarapan pagi berupa 2 bungkus nasi kuning dan gorengan ceker ayam yang kami bawa dari rumah, untuk dimakan bersama-sama di salah satu ‘Saung’ yang memang khusus diperuntukan bagi pengunjung untuk beristirahat," ujarnya.