CANDI Borobudur baru-baru ramai diperbincangkan netizen. Pasalnya ada seorang wisatawan asal Malaysia salah menyebut lokasi candi ini yakni di Yogyakarta. Padahal Borobudur terletak di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Baca juga: Traveler Malaysia Sebut Candi Borobudur di Yogya, Ini Fakta dan Mitos Seputar Borobudur
Ya, Borobudur, salah satu candi Buddha terbesar di dunia ini memang sering kali disangka berada di Yogyakarta. Nyatanya Candi Borobudur terletak di Jalan Badrawati, Kw. Candi Borobudur, Borobudur, Kecamatan Borobudur, Magelang.
Arti Nama Borobudur
Arti nama Borobudur dijelaskan oleh banyak teori. Beberapa sumber meyakini Borobudur berasal dari Bore-Budur yang kemungkinan ditulis Sir Thomas Stamford Raffles dalam buku Sejarah Pulau Jawa dalam tata bahasa Inggris untuk menyebut desa terdekat dengan candi, yaitu desa Bore.
Ia juga menduga istilah ‘Budur’ berkaitan dengan Buda dalam bahasa Jawa yang berarti purba. Arkeolog lain beranggapan nama Budur berasal dari Bhudhara yang berarti gunung.
Pendiri Candi Borobudur
Hingga saat ini belum diketahui pasti siapa sosok yang merancang Candi Borobudur. Tidak ada bukti tertulis maupun konkrit yang menjelaskan pendiri candi megah ini. Namun beberapa sumber mengatakan Candi Borobudur dibangun sekitar abad ke-8 sampai 9 pada zaman keemasan Dinasti Syailendra.
Perkiraan waktu pembangunan dilihat dari perbandingan jenis aksara yang tertulis di kaki tertutup Karmawibhangga Candi Borobudur dengan jenis aksara umumnya yang ada pada prasasti kerajaan abad ke-8 dan ke-9 Masehi. Lokasinya berada di atas perbukitan tinggi dan berarsitektur rumit, dengan itu diperkirakan pembangunan candi diperkirakan memakan waktu 75 sampai 100 tahun lebih.
Baca juga: Pengelola Candi Borobudur Minta Tambahan Kuota Pengunjung Jadi 10 Ribu
Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa Candi Borobudur dibangun oleh seseorang bernama Samaratungga, seorang pemimpin Kerajaan Mataram Kuno yang merupakan keturunan Wangsa Sayilendra pada abad ke-8 Masehi.
Arsitektur Candi Borobudur
Mulanya, rancangan bangunan candi hanya berupa stupa tunggal besar yang memahkotai puncaknya. Karena pertimbangan yang mengatakan stupa terlalu besar dan berat akan berisiko membahayakan jika diletakkan di puncak, maka stupa tersebut dibongkar dan digantikan dengan tiga barisan stupa ukuran kecil serta satu stupa induk.