BEBERAPA negara sudah mencabut pembatasan COVID-19 dan mengizinkan warganya bepergian ke luar negeri. Inggris dan Arab Saudi misalnya, mulai 17 Mei 2021 kembali membuka perjalanan internasional.
Dibukanya kembali perjalanan internasional tentu kabar mengembirakan bagi para traveler yang mungkin sudah bosan terkurung lockdown. Banyak pelancong yang sudah memesan tiket pesawat. Maskapai penerbangan pun melaporkan lonjakan minat pembeli.
Baca juga: Goa Agung Garunggang, Destinasi Wisata Alam Unik Dekat Jakarta
Mengutip laporan INDEPENDENT, Selasa (11/5/2021), para pelancong kerap kali menganggap pesawat sebagai sarang kuman dan melupakan bahwa bandara adalah tempat yang jauh lebih berisiko karena orang dari berbagai negara berkumpul di sana.
Selain menjaga jarak, mencuci tangan atau menggunakan hand sanitizer secara teratur, dan mengenakan masker atau diistilahkan dengan 3M. Ada cara lain untuk membatasi kontak dengan orang-orang di bandara yaitu melakukan check in online dan mencetak boarding pass sebelumnya.
Mengenai bagasi, ada dua langkah berlawanan yang patut dipertimbangkan.
Department for Transport (DfT) merekomendasikan penumpang untuk mendaftarkan semua bagasi, dengan mengatakan: "Ini akan mempercepat naik dan turunnya pesawat serta meminimalkan risiko penularan."
Baca juga: Taman Margasatwa Ragunan Buat Lingkaran Khusus Antisipasi Kerumunan Pengunjung
Namun, Ryanair memiliki pandangan yang berbeda, dengan alasan bahwa membawa tas tangan mengurangi jumlah tangan yang menyentuh tas Anda.
“Kami menyarankan penumpang melakukan hal yang sebaliknya (dari saran DfT) yakni memaksimalkan tas jinjing dan meminimalkan bagasi terdaftar. Padahal, jelas, kami menghasilkan lebih banyak uang dari bagasi yang tidak dibawa ke kabin,” CEO maskapai penerbangan Michael O’Leary.
“Logika kami, bagasi ditangani oleh delapan pasang tangan, mulai dari meja check-in, gerbang boarding, hingga ke bandara kedatangan juga. Sedangkan tas jinjing hanya dibawa oleh pemiliknya.”