Sebagaimana dilansir laman Science Alert, ahli bahasa Don Nilsen menyebut tertawa butuh peran sosial yang kuat dan sangat jarang tertawa bisa terjadi jika sedang sendirian. Hal ini dibuktikan dari tawa bayi yang merasa senang membangun ikatan dengan pengasuhnya.
Baca juga: Ingat Pesan Nabi Muhammad, Tertawa Terbahak-Bahak Dapat Mematikan Hati
Hal tersebut sebagai tanda eksternal untuk berbagi apresiasi atau situasi. Misalnya, pelawak mencoba tertawa untuk membuat audiens merasa lebih dekat secara psikologis agar tercipta keintiman di antara mereka.
Para peneliti menemukan bahwa emosi positif yang dihasilkan saat tertawa dapat meningkatkan kesejahteraan subjektif dan kepuasan hidup. Emosi itu akan membuat seseorang lebih menghargai makna hidup dan membantu orang yang lebih tua memahami kesulitan yang mereka hadapi selama hidup.
(Hantoro)