HARI Tuberkulosis Sedunia diperingati setiap 24 Maret. Tuberkulosis (TB) sendiri merupakan penyakit yang menyerang sistem pernapasan manusia. Mirisnya, Indonesia menjadi negara dengan beban TB terbesar kedua setelah India.
Di tengah pandemi covid-19 yang menyerang dunia, berbagai layanan pemantauan surveillance untuk penyakit lain menjadi terganggu, termasuk tuberkulosis. Ini terbukti dari penemuan data pelaporan kasus TB yang menurun, lantaran masyarakat takut berobat di tengah masa pandemi covid-19.
Baca juga: Selama Pandemi, Data Pelaporan Kasus Tuberkulosis di Indonesia Menurun
Ketua Dewan Pembina Stop TB Partnership Indonesia Arifin Panigoro mengatakan kajian dari World Health Organization (WHO), Global TB Programme, dan Stop TB Partnership Global memperkirakan kasus tuberkulosis akan meningkat dan risiko penularan makin tinggi.
"Beberapa pendapat ahli menyebutkan adanya pandemi covid-19 menyebabkan kemunduran penanganan TBC selama 8 hingga 12 tahun," terang Arifin dalam acara 'Puncak Peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia' yang disiarkan langsung di YouTube Kementerian Kesehatan, Rabu (24/3/2021).
Selain itu, pengalihan sumber daya untuk fokus menangani pandemi covid-19 berpengaruh dalam program penanganan TB. Ini terutama dalam rangka mencapai target eliminasi tuberkulosis pada 2030 seperti dicanangkan Presiden Joko Widodo pada 2020 melalui Gerakan Bersama Menuju Eliminasi TBC 2030 di Cimahi, Jawa Barat.
Baca juga: Dokter: Sulit Mendeteksi Tuberkulosis pada Anak, tapi Bisa Diobati
"Harus diakui pandemi covid-19 membuat semua pihak seolah-olah tidak lagi menempatkan penanggulangan TB sebagai prioritas. Namun penting untuk diingat bahwa penanggulangan covid-19 sejatinya dibangun serupa dengan pola surveillance serta intervensi TBC," lanjutnya.
Sebagaimana diketahui, sistem investigasi kontak tuberkulosis juga dilakukan melalui pendekatan tracing, testing, dan treatment. Terlebih lagi SDM, infrastruktur, alat diagnosis TB di mancanegara kini sedang dioptimalkan untuk respons pandemi covid-19.
(Hantoro)