PARA arkeolog telah menemukan tengkorak wanita era Sebelum Masehi dalam gua terpencil di Italia utara. Tengkorak yang diperkirakan berusia 5.300 tahun itu diduga bagian dari ritual kematian.
Sisa-sisa tengkorak itu ditemukan di sistem gua yang dikenal sebagai Marcel Loubens pada 2015. Saat itu, para arkeolog bingung bagaimana tengkorak tersebut berada dalam gua, mengingat tidak ada seorang pun dari periode itu yang dapat mengakses lokasi tersebut.
Baca juga: 40 Tahun Hilang Dicuri, Baju Besi Abad 16 Kembali ke Museum Louvre
Para arkeolog juga tidak mengetahui mengapa tidak ada sisa-sisa manusia lain yang ditemukan di sekitar tengkorak, atau mengapa tidak ada bukti lain yang menunjukkan apa yang terjadi.
Namun kini ada fakta menarik ditemukan terkait keberadaan tengkorak wanita itu dalam gua terpencil.
Melansir dari 9NEWS, Selasa (9/3/2021), tengkorak itu pertama kali terlihat di dekat bagian atas poros vertikal sekitar 12 meter di bawah sistem kompleks gua, kurang lebih 26 meter di bawah tanah.
Tengkorak tersebut ditemukan dalam posisi terbalik, dengan kondisi kehilangan rahang bawah. Penemuannya berlangsung di rongga alami di poros yang hanya bisa diakses dengan peralatan panjat khusus.
Pada 2017, para arkeolog akhirnya menemukan jawabannya dan telah merilis sebuah makalah di PLOS One terkait teori bagaimana tengkorak itu bisa sampai di sana.
Penemuan tengkorak di Gua Marcel Loubens yang berasal dari fase awal Eneolitik atau antara tahun 3.600 dan 3.300 SM memberikan wawasan baru untuk interpretasi kehadiran antropik di seluruh wilayah Italia. Penemuan ini juga menambah data baru tentang tentang perawatan perimortem mayat.
Baca juga: Goa Berusia Ribuan Tahun di Penajam Paser Utara Berpotensi Jadi Destinasi Wisata
Arkeolog dari Universitas Bologna, Italia, Profesor Maria Giovanna Belcastro mencurigai bahwa benda itu jatuh ke dalam gua karena aliran air dan lumpur, kemungkinan besar dari tepi doline atau lubang pembuangan.
"Kejadian alam yang tidak disengaja tampaknya dikonfirmasi oleh beberapa lesi post-mortem di tengkorak," kata Belcastro.
"Kami fokus untuk menyelidiki keadaan seputar kematian individu ini, karena tempurung kepala menunjukkan tanda-tanda beberapa lesi yang tampaknya merupakan hasil dari manipulasi perimortem yang mungkin dilakukan untuk menghilangkan jaringan lunak,” lanjutnya.