Pengunjung juga akan menemukan Sembilan buah bekas bangunan dengan posisi tidak beraturan dan prasasti Palah yang berupa linggapala dan dibangun oleh Raja Srengga sebagai sarana penyembahan Bathara Palah.
Selebihnya, halaman belakang dipenuhi oleh bangunan dengan relief yang menceritakan candi dengan tinggi 1 meter.
Sejarah Candi Penataran
Candi Penataran merupakan peninggalan Kejaraan Kediri. Sebenarnya, candi ini memiliki nama asli Candi Palah. Namun masyarakat lebih mengenalnya dengan nama Candi Penataran.
Berdasarkan tulisan pada sebuah batu yang terletak di sisi selatan bangunan utamanya, diduga Candi Penataran dibangun oleh Raja Kerajaan Kediri, yakni Raja Srengga pada tahun 1194 M. Pada awal pembangunannya, Candi Penataran difungsikan sebagai sarana upacara pemujaan Hindu untuk menangkal bahaya dari Gunung Kelud yang saat itu sering meletus.
Pembangunan Candi Penataran terus berlanjut. Lalu pada tahun 1286, Candi Naga berdiri di dalam komplek Candi Penataran. Di sana terdapat relief 9 orang tengah menyangga naga. Naga sendiri adalah lambing candrasengkala atau tahun 1208 Saka.
Tak hanya dari Kerajaan Kediri, Candi Penataran juga mendapat perhatian dari pemerintahan Jayanegara. Candi tersebut menjadi candi negara resmi berstatus dharma lepas saat kepemimpinan Tribuanatunggadewi dan Hayam Wuruk.
Disebutkan dalam Kitab Negarakertagama, Hayam Wuruk yang saat itu memerintah Kerajaan Majapahit mengunjungi Candi Penataran dalam lawatannya di daerah Jawa Timur.
Tujuan kunjungannya adalah untuk memuja Hyang Acalapat, yang merupakan perwujudan Dewa Siwa sebagai Girindra atau Raja Penguasa Gunung.
Candi Penataran ditemukan kembali pada 1815 oleh Sir Thomas Stamford Raffles yang saat itu menjabat sebagai Letnan Gubernur Jenderal Inggris di Indonesia. Candi Penataran baru mulai dikenal banyak orang setelah 1850.
Pada 1995, Candi Panataran didaftar untuk dapat pengakuan sebagai situs warisan dunia UNESCO dari Indonesia.
(Salman Mardira)