INDONESIA memang masyhur dengan kekayaan dan keindahan alamnya. Terdapat banyak wilayah yang telah dikunjungi oleh beberapa turis dari mancanegara untuk melihat berbagai destinasi wisata yang ada di Indonesia. Semisal Bali, Yogyakarta, Sumatra Utara, Nusa Tenggara hingga Papua.
Tapi tahukah travelers, jika salah satu kota yang berada di Indonesia yaitu Kota Tarakan juga menyimpan banyak keindahan wisata yang tak kalah mempesona dengan wisata lainnya.
Tarakan merupakan kota terbesar yang terletak di Kalimantan Utara (Kaltara). Disebut-sebut sebagai penghasil minyak terbaik di Nusantara, kota ini memiliki segudang wisata yang wajib dikunjungi. Berikut Okezone telah merangkum beberapa wisata yang terdapat di Tarakan.
Pantai Tanah Kuning
Pantai ini merupakan salah satu wisata popular yang terdapat di Kaltara. Melansir laman ksmtour, nama Tanah Kuning diambil dari nama desa yang terletak di wilayah pantai, yaitu Desa Tanah Kuning.
(Foto: Instagram/@pesonabhineka)
Pantai ini memiliki air yang bersih berwarna kebiruan seolah menyatu dengan langit. Terletak di daerah Derawan destinasi ini terkenal dengan populasi ikannya yang sangat banyak.
Bagi wisatawan yang ingin berenang ditempat ini disarankan untuk berenang ditepian karena ombaknya yang cukup besar dan berbahaya. Pasir putih yang menghampar di pinggir pantai sangat cocok menjadi sarana bagi anak anak yang ingin bermain pasir. Tarif masuk dikenakan sebesar Rp5.000 per orang. Untuk jam operasionalnya pun buka setiap hari selama 24 jam.
Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan
Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB) atau lebih dikenal dengan Hutan Mangrove Tarakan terletak di Karang Rejo, Tarakan Barat, Karang Rejo, Tarakan Bar, Kota Tarakan.
Menukil laman Mongabay, kawasan seluas 22 hektare ini menyimpan beraneka flora dan fauna di dalamnya. Terdapat 27 jenis mangrove di wilayah ini. Mulai dari yang tumbuh rendah seperti jeruju (Acanthus Ilicifolius) hingga yang menjulang tinggi seperti api-api (Avicennia) pidada (Sonneratia), kendeka (Bruguiera ) dan pohon bakau (Rhizopora).
Terdapat pula jalur trekking yang telah disediakan oleh pengelola. Sambil menyusuri jalur sepanjang 300 meter, wisatawan dapat menjelajahi sejuknya area mangrove ini.
(Foto: Instagram/@sitisuryawati)
Tak hanya itu, di sini juga terdapat satwa pemalu berjuluk 'Monyet Belanda' yang jumlahnya sekitar 37 ekor. Makanan asli dari satwa tersebut bukanlah pisang, melainkan pucuk daun mangrove tertentu atau pucuk bakau yang tumbuh subur di tempat ini.
Pemberian makan akan dilakukan pada pagi dan sore hari. “Monyet Belanda” ini akan mendatangi “meja makan” sekitar pukul 09.00 pagi dan 15.00 sore. Mereka akan datang secara bergantian.
Cukup dengan membayar Rp5.000 pengunjung dapat berkeling keliling sambil melihat berbagai flora dan fauna yang ada diwilayah ini.
Baloy Adat Tidung
Destinasi ini merupakan tempat rumah adat yang telah diresmikan pada tahun 2006 lalu. Di dalam bangunan tersebut masih terdapat alat alat peninggalan kerajaan, seperti singgasana dan gong. Berbahan dasar kayu ulin yang dibangun menghadap utara bangunan ini dibangun secara mandiri oleh masyarakat suku adat Tidung.
Dengan tarif sebesar Rp3.000 wisatawan sudah bisa masuk sekaligus menapak tilas jejak sejarah dan budaya Suku Tidung. Di tempat ini juga tersedia berbagai fasilitas mulai dari toilet hingga musala dengan gaya arsitektur khas Tidung.
(Foto: Instagram/@baloyadattidung)
Terdapat empat ruangan utama yang dikenal sebagai Ambir, yakni Ambir Kiri (Alad Kait), Ambir Tengah (Lamin Bantong), Ambir Kanan (Ulat Kemagot) dan Lamin Dalom. Keempat ruangan tersebut memiliki fungsinya masing masing.
Sementara itu di belakang rumah terdapat sebuah bangunan yang terletak di atas kolam. Kolam tersebut dipenuhi banyak ikan. Bagi wisatawan yang berkunjung ke tempat ini dapat memberi makan ikan-ikan peliharaan di sana.
Penangkaran Buaya Juwata
Penangkaran Buaya Juwata merupakan rumah tempat tinggal buaya seluas 5 hektare yang telah berdiri sejak tahun 1991. Bermula dari beberapa ekor buaya, kini menjadi ribuan buaya yang ditampung di tempat ini hingga menarik banyak wisatawan untuk berkunjung ke tempat ini.
(Foto: Instagram/@amazingborneo.id)
Melansir situs Indonesia-Tourism, terdapat beberapa jenis buaya yang ditampung di wilayah ini, tiga berasal dari Kalimantan dan satu berasal dari Papua, di antara jenisnya yaitu buaya supit, buaya muara, buaya air tawar dan buaya Papua.
Khusus di Kalimantan Utara buaya memang dikembangbiakkan dengan lingkungan sangat baik. Sehingga tak perlu khawatir mengalami kepunahan. Sebab, jumlah predator ganas itu banyak dan terus bertambah populasinya. Jam operasional objek wisata ini buka setiap hari mulai pukul 10.00 WIB.
(Rizka Diputra)