Menilik Sejarah Baju Cheongsam, Cermin Emansipasi dan Kebangkitan Perempuan China

Pradita Ananda, Jurnalis
Selasa 09 Februari 2021 20:18 WIB
Baju Cheongsam cermin kebangkitan perempuan China (Foto : Kislly)
Share :

Perayaan Tahun Baru China atau lebih dikenal dengan Hari Imlek, tinggal menghitung hari. Saat perayaan Imlek, biasanya banyak orang mengenakan baju Cheongsam atau dikenal sebagai pakaian tradisional China.

Secara istilah, Cheongsam juga bisa disebut sebagai Qipao. Cheongsam adalah nama yang digunakan dari turunan bahasa Inggris dari istilah Kanton. Sementara Qipao merupakan sebutan yang digunakan dalam bahasa China Mandarin, seperi dikutip Kislly, Selasa (9/2/2021).

Menilik sejarahnya, baju Cheongsam berasal dari Shanghai tahun 1920-an. Menjadi salah satu fenomena di dunia mode, diadopsi oleh banyak perempuan muda mulai dari pelajar hingga bintang film.

Sejarah pakaian yang identik dengan busana khas perayaan Tahun Baru Imlek ini disebutkan sebagai salah satu cermin kebangkitan perempuan China modern di abad ke-20. Kisah soal baju Cheongsam dimulai saat penggulingan dinasti Qing dan berdirinya Republik China pada tahun 1912.

Pada pertengahan 1910-an dan awal 1920-an, para intelektual China mulai memberontak terhadap nilai-nilai tradisional, vokal menyerukan soal demokratis dan nilai-nilai standar dunia Barat, termasuk di dalamnya emansipasi dan pendidikan wanita. Masuknya perempuan di sistem pendidikan inilah yang menjadi pintu gerbang pembuka.

Baca Juga : 5 Makanan Khas Imlek dan Makna Filosofinya

Baju Cheongsam di awal-awal era 1020-an hadir dengan siluet yang lebih longgar daripada yang biasa kita lihat zaman sekarang. Perkembangan dan penyebaran baju Cheongsam menjadi busana yang lazim dipakai oleh perempuan-perempuan di kota-kota besar seperti Beijing, Shanghai, Hong Kong, dan Taiwan terjadi dengan cepat.

Baca Juga : Pemotretan Keluarga Ahok Sambut Tahun Baru Imlek, si Kecil Curi Perhatian!

Jika awalnya dibuat dengan material bahan sutra tradisional, seiring perkembangan dunia garmen kemudian diganti dengan material tekstil kontemporer yang lebih murah. Sedangkan dari segi desain, meski motif bordir tradisional tetap mendominasi, tetapi pola geometris dan art deco juga tak kalah pamor.

Tapi baju Cheongsam juga pernah mengalami penurunan. Tak lama setelah kebangkitan pemerintah Komunis, baju cheongsam yang dianggap borjuis menghilang dari kehidupan sehari-hari di daratan China. Di Shanghai, bahkan di jalan-jalan sampai ada patroli untuk memastikan tidak ada yang mengenakan baju Cheongsam.

Namun, akhirnya popularitas Cheongsam kembali naik pada era koloni Inggris di Hong Kong era 1950-an. Baju Cheongsam menjadi pakaian sehari-hari kala itu. Ditambah dengan pengaruh industri fesyen Eropa, baju Cheongsam ini terlihat biasa dipadukan bersama sepatu hak tinggi, serta aksesori tambahan yakni clucth bag dan sarung tangan putih.

Namun, pada akhirnya seiring perkembangan zaman yang makin modern dan cepat, ketenaran baju Cheongsam menurun di akhir tahun 1960-an. Seiring dengan masuknya pakaian-pakaian Barat, diproduksi secara masal dan dijual dengan harga jauh lebih murah ketimbang baju Cheongsam yang dibuat handmade.

Pada 1970-an baju Cheongsam tak lagi dipakai sebagai pakaian sehari-hari sebagian besar perempuan China. Baju Cheongsam hanya terlihat sebagai kostum acara spesial seperti perayaan Imlek. Tetapi, baju Cheongsam tetap menjadi pakaian yang signifikan dalam sejarah mode perempuan China, dikutip dari Theculturetrip.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya