Hanya dalam hitungan cepat, sesaat seseorang setelah bernafas dengan sensitifitas 90 persen, spesifitas 96 persen, akurasi 93 persen, dengan PPV 88 persen, dan NPV 95 persen.
GeNose C19 juga mampu bekerja secara paralel melalui proses diagnosis yang tersentral di dalam sistem sehingga validitas data dapat terjaga untuk semua alat yang terkoneksi.
Data yang terkumpul di dalam sistem selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk keperluan pemetaan, pelacakan dan pemantauan penyebaran pandemi secara aktual. Selain itu, biaya penggunaan GeNose pun lebih terjangkau untuk masyarakat yakni hanya sekitar Rp15-20 ribu.
Pada 24 Desember 2020 lalu GeNose secara resmi telah mendapatkan izin edar dari Kementerian Kesehatan. Kemudian pada Jumat 15 Januari 2021 lalu, digelar konferensi pers produk pengembangan dan inovasi GeNose untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pengenalan alat GeNose C19 oleh Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional Republik Indonesia (Kemristek/BRIN).
(Rizka Diputra)