Penelitian lebih lanjut di tahun 2001 menunjukkan, anak usia 6-16 tahun yang mengalami defisiensi zat besi juga memiliki nilai rata-rata tes matematika dan membaca yang lebih rendah dibandingkan anak-anak dengan gizi tercukupi.
“Tingkat zat besi dipengaruhi oleh konsumsinya, misalnya pola makan tidak seimbang, gangguan proses penyerapan zat besi di saluran pencernaan, cadangan zat besi dalam jaringan, serta ekskresi dan kebutuhan tubuh,” paparnya.
Prof Sandra menerangkan, kebutuhan zat besi harian anak berbeda berdasarkan usianya. “Anak di usia 1-3 tahun membutuhkan 7 miligram, sedangkan usia 4-6 tahun membutuhkan 10 miligram,” ujarnya.
Jika anak mengalami kekurangan zat besi, akan ada beberapa tanda atau gejala yang tampak. Di antaranya sulit berkonsentrasi saat belajar dan produktivitas menurun.
“Anak juga mengalami 5 L, yaitu lemah, letih, lesu, lemas, dan lunglai. Kemudian, bagian bawah mata, kuku, dan telapak tangan anak pucat. Selain itu, sering pusing dan berkunang-kunang juga bisa menjadi tanda defisiensi zat besi,” tukasnya.
(Dyah Ratna Meta Novia)