Para peneliti menemukan fakta bahwa temuan Covid-19 jenis baru yang mereka dpati tidak seperti varian yang terlihat di Inggris. "Kami belum mengamati peningkatan 'garis keturunan' yang begitu cepat di Nigeria dan tidak memiliki bukti yang menunjukkan bahwa varian P681H berkontribusi pada peningkatan penularan virus di Nigeria," lapor AP.
AP juga menyatakan bahwa, "Perbedaan yang cukup relatif dalam skala surveilans genom di Nigeria vs Inggris mungkin menyiratkan penurunan kekuatan untuk mendeteksi perubahan yang terjadi pada varian Covid-19 baru tersebut."
Sementara itu, Nkengasong mengeluarkan fakta bahwa kasus Covid-19 jenis baru di Nigeria menduduki posisi teratas kasus harian di negara tersebut. Nigeria melaporkan peningkatan kasus sebesar 52 persen dan di Afrika peningkatannya terjadi sebanyak 40 persen.
"Covid-19 jenis baru di Afrika Serikat adalah kasus yang mendominasi dari total kasus yang mendekati 1 juta kasus," terang Nkengasong. Data lainnya menjelaskan bahwa Covid-19 jenis baru tersebut sangat menular dan viral load-nya lebih tinggi ketika menginfeksi seseorang.
(Dyah Ratna Meta Novia)