Varian baru virus corona Covid-19 yang ditemukan di Inggris memiliki tingkat penularan yang lebih tinggi dari sebelumnya. Beberapa ahli menyebut bahwa varian baru dari virus ini bisa menular 70 persen lebih tinggi. Oleh karena itu, warga Inggris pun menyebut virus ini sebagai supercovid.
Menanggapi hal tersebut, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Ari Fahrial Syam mengatakan, varian tersebut belum ditemukan di Indonesia. Pada prinsipnya, data virus tersebut diambil dari pemeriksaan next generating sequencing.
“Terus terang kami belum menemukan di Indonesia dan belum melakukan pemeriksaan itu,” katanya saat dihubungi Okezone melalui pesan singkat pada Jumat (25/12/2020).
Kendati demikian, lulusan master biologi molekuler dari University of Queensland, Australia itu menyarankan agar pemerintah benar-benar melakukan pembatasan ketat terhadap Warga Negara Asing (WNA) khususnya dari negara-negara Eropa, terutama Inggris.
“Jadi orang dari inggris tidak bisa masuk. Bukan peringatan travel warning lagi tapi larangan travel ban,” sambungnya.
Selanjutnya, guru besar bidang ilmu penyakit dalam itu juga mengatakan, berdasarkan hasil analisa, virus yang tengah menyebar di Inggris dan Afrika itu mempunyai tingkat infeksi yang tinggi. Tapi, menurut dia, masih perlu dibuktikan bagaimana karakter virusnya.
“Tapi saya dengar juga kata varian virus corona itu masih bisa ditangani dengan vaksin yang ada,” kata Ari menambahkan.
Akan tetapi, ia juga mengingatkan bahwa diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai penelitian tersebut. Mengingat saat ini terdapat beberapa jenis vaksin untuk Covid-19.
(Dyah Ratna Meta Novia)