Mengenal Delirium, Gejala Baru Covid-19 yang Dialami Pasien Lansia

Alfina Nur Hayati, Jurnalis
Jum'at 11 Desember 2020 10:36 WIB
Delirium gejala baru Covid-19 yang sering dialami lansia (Foto : Freepik)
Share :

Efek Covid-19 terhadap otak

Sejak ditemukan pada Desember 2019 di Wuhan, China, virus corona begitu menyorot perhatian dunia. Sekelompok ilmuwan menyelidiki Covid-19, termasuk gejala yang ditimbulkan.

Sepanjang tahun ini, sejumlah penelitian terhadap pasien Covid-19 dilakukan. Sejumlah gejala baru pun ditemukan muncul pada kebanyakan pasien. Salah satunya UOC, yang melakukan studi tentang efek virus corona terhadap otak sebagai sistem saraf pusat.

Penelitian ini menunjukkan, virus corona juga memengaruhi sistem saraf pusat dan menghasilkan perubahan neurokognitif, seperti sakit kepala dan delirium. Hipotesis utama virus corona memengaruhi otak menunjuk pada tiga kemungkinan penyebab.

"Hipoksia atau defisiensi oksigen saraf, radang jaringan otak akibat badai sitokin, dan fakta virus memiliki kemampuan melintasi darah untuk langsung menyerang otak,” ungkap Correa.

Penyebab dan gejala delirium

Menurut Correa, delirium kemungkinan besar hasil dari peradangan sistemik organ dan keadaan hipoksia, yang juga menyebabkan jaringan saraf menjadi meradang. Kondisi ini membuat area seperti hipokampus rusak, yang terkait dengan disfungsi kognitif dan perubahan perilaku pasien penderita delirium.

Para peneliti memeriksa 817 pasien berusia 65 tahun atau lebih yang didiagnosis Covid-19 di UGD. Mereka menemukan, hampir sepertiga pasien mengalami delirium ketika tiba di UGD.

Mengigau menjadi gejala utama yang muncul dari 16% pasien itu dan 37% lainnya tidak memiliki tanda-tanda Covid-19 yang khas. Temuan ini menunjukkan pentingnya memasukkan delirium dalam daftar periksa tanda dan gejala Covid-19 yang memandu skrining, pengujian, dan evaluasi.

"Delirium bukan hanya gejala umum Covid-19, tetapi juga mungkin gejala utama dan satu-satunya pada orang tua," kata Sharon K. Inouye, Profesor Kedokteran di Harvard Medical School, peneliti senior studi itu.

"Oleh karena itu, delirium harus dianggap sebagai gejala awal penting Covid-19," tegasnya.

(Helmi Ade Saputra)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya