Satu suara penolakan datang dari dr. Helen Talbot yang merupakan seorang profesor kedokteran di Vanderbilt University. Setelah pemungutan suara, Talbot mengatakan bahwa dia mendukung pemberian vaksin kepada petugas kesehatan, tetapi khawatir tentang penghuni fasilitas perawatan jangka panjang yang lemah dan lebih tua yang menerima suntikan.
Dokter Talbot mempertanyakan efektivitas vaksin yang diberikan apakah akan bekerja dengan baik bagi mereka.
"Saya merasa jaringan keamanan kami untuk fasilitas perawatan jangka panjang belum cukup kuat. Saya pikir ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan,” terang Talbot.
Seorang Shli Penyakit Menular di Vanderbilt University Medical Center di Nashville, Tennessee, dr. William Schaffne yang tidak termasuk dalam panel, mengatakan bahwa rekomendasi tersebut adalah keputusan yang sangat bagus.
“Perjalanan panjang dimulai dengan langkah pertama. Dan ini adalah langkah pertama yang tegas dan jelas bahwa petugas kesehatan dan penghuni fasilitas perawatan jangka panjang harus menjadi yang pertama dalam antrean untuk mendapatkan vaksin,” terang Schaffner.
Schaffner mengakui keprihatinan tentang pemberian vaksin kepada penghuni panti jompo. Menurutnya para peneliti harus mencari tahu tentang persoalan ini.
“Tidak ada keputusan yang tepat di sini, tidak ada keputusan yang salah di sini. Panel penasehat akan bertemu lagi dalam beberapa minggu untuk memutuskan siapa yang harus antri mendapatkan vaksin berikutnya. mereka kemungkinan, guru, polisi, pemadam kebakaran dan pekerja di bidang penting lainnya seperti produksi makanan dan transportasi, orang tua, dan orang-orang masalah medis (komorbid),” tuntasnya.
(Helmi Ade Saputra)