Asyiknya Keliling Kota Sambil Ngopi di Bus Pariwisata

Antara, Jurnalis
Jum'at 27 November 2020 09:25 WIB
Ngopi di atas bus pariwisata di Pamekasan, Jawa Timur (Antara/Aziz)
Share :

Mukti menjelaskan, dampak kasus corona pada sektor jasa dan pariwisata ini tidak hanya dialami dirinya, akan tetapi oleh semua pengusaha perjalanan dan paket wisata di Madura. Apalagi, saat pemerintah masih memberlakukan penutupan semua objek wisata.

"Maka agar usaha kami tetap bisa bertahan, kami mengubah strategi dan berkolaborasi dengan pengusaha kafe, dan alhamdulillah, kami masih bisa bertahan di tengah kondisi yang serta tidak pasti dan belum tahu kapan pandemi akan berakhir," katanya.

Butuh kreatif

Akademisi dari Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Malang Eka Kadharpa Utama Dewayani, SE, MM menyatakan memang membutuhkan usaha kreatif bagi para pelaku usaha untuk bisa bertahan di tengah pandemi COVID-19 seperti sekarang ini.

Sebab, berdasarkan hasil penelitian, hanya mereka yang kreatif dan inovatif yang mampu bertahan di era yang serba tidak pasti.

"Kreativitas merupakan unsur penunjang penting, dan ini harus dipahami oleh pelaku bisnis," katanya saat menjadi narasumber dalam acara Gathering Media dan Seminar Ekonomi Pembangunan yang digelar Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan (Prokopim) Pemkab Pamekasan pertengahan November 2020.

Hal senada juga dikemukakan oleh dosen Institut Agama Islam (IAN) Al-Khairat Pamekasan Matnin M.EI.

Ia menyatakan, pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini telah terbukti meruntuhkan sendi-sendi ekonomi masyarakat di berbagai belahan dunia.

Banyak negara maju yang telah merasakan dampaknya, termasuk negara maju sekelas Amerika sekaligus pondasi ekonomi mereka lebih baik dari Indonesia.

Dosen yang juga konsultan pengembangan usaha mikro di Pamekasan ini lebih lanjut menjelaskan, kondisi ekonomi bangsa saat ini tidak hanya memburuk, akan tetapi mulai ada tanda-tanda akan masuk zona resesi.

"Dan arah bahwa ekonomi Indonesia masuk resesi, sudah pernah dilontarkan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati," kata Matnin.

Ia menuturkan, saat ini, pemerintah terpaksa merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2020 berada di kisaran minus 2,9 persen hingga minus 1,1 persen. Angka tersebut lebih dalam jika dibandingkan dengan proyeksi awalnya, yakni sebesar minus 2,1 persen hingga 0 persen.

Sedangkan pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2020 diperkirakan minus 1,7 persen hingga minus 0,6 persen, revisi dari sebelumnya 1,1 persen hingga positif 0,2 persen.

Jika mengacu kepada pernyataan Menkeu ini, kata dia, maka sebenarnya kondisi ekonomi bangsa Indonesia saat, sedang tidak menentu dan dibutuhkan terobosan dan kebijakan yang berpihak dari pemerintah.

Dari sisi pelaku usaha, inovasi dan model baru pemasaran yang sesuai dengan konteks kekinian sangat dibutuhkan.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya