Hajatan akbar ini mengerucut pada empat rangkaian simulasi bencana alam dan nonalam yakni gempa bumi dan tsunami, pertolongan pada kejadian serangan jantung, evakuasi kapal tenggelam atau terbakar, serta Penanganan Covid-19.
Shana juga menambahkan, rangkaian simulasi dan sertifikasi ini juga sebagai bentuk persiapan Labuan Bajo sebagai destinasi pariwisata super prioritas.
"Selain sertifikasi EFR, kawasan wisata di TNK juga akan menerapkan protokol CHSE (Cleanliness, Health, Safety, Environment Sustainability) sebagai bentuk pernyataan kesiapan menyambut wisatawan di era kebiasaan baru," kata Shana.
Rangkaian simulasi protokol Keamanan dan Keselamatan ini merupakan simulasi pertama dilakukan yang juga akan diselenggarakan pada Daerah Pariwisata Super Prioritas (DPSP) lainnya pada 2021.
(Foto: Okezone.com/Dimas Andhika)
Sementara itu, salah seorang ranger yang mengikuti sertifikasi, Damianus A Teda, mengaku antusias. Damianus mengatakan sertifikasi EFR ini merupakan suatu bentuk peningkatan kapasitas dan kemampuan dari ranger TNK.
"Sertifikasi ini adalah bekal yang bagus bagi kami. Dengan sertifikasi EFR ini, kami merasa siap menerima kunjungan wisatawan. Kemampuan EFR ini merupakan sesuatu yang tentunya akan meningkatkan nilai tawar pariwisata yang ada di Taman Nasional Komodo. Tentunya juga terima kasih kepada pihak yang telah menyediakan sertifikasi ini kepada kami," ujar Damianus.
(Rizka Diputra)