PEMBANGUNAN infrastruktur di Taman Nasional Komodo tengah digencarkan. Ke depannya, akan ada kemungkinan pembagian zona pemanfaatan di kawasan tersebut.
Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian KLHK, Wiratno mengatakan, pembagian zona ini juga akan memberdayakan dan melibatkan seluruh lapisan masyarakat.
Dengan demikian, masyarakat bisa turut merasakan dampak ekonomi dan sosial dari potensi pariwasata mereka sendiri.
Selain itu, akan ada banyak daya tarik baru yang bisa dinikmati wisatawan. Salah satunya melihat komodo di malam hari.
Baca juga: Libur Panjang Oktober 2020, Ini Tips Liburan Hemat ke Taman Nasional Komodo
(Foto: Instagram/@explorekomodo)
“Bila nanti ada special interest atau permintaan dari wisatawan, merek biaa melihat komodo di malam hari atau berpetualang naik mobil safari. Tapi ini masih kemungkinan ada perubahan karena perlu dikaji lagi,” ujarnya dalam konferensi pers virtual, belum lama ini.
Lebih lanjut Wiratno menjelaskan, pembangunan sarpras di Taman Nasional Komodo sangat mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam mengatur ruang pemanfaatan dalam area konservasi sebagai lokasi ekowisata.
Sejumlah zona sudah dipetakan, termasuk area snorkeling hingga penyelaman laut atau diving.
Setidaknya ada 41 titik snorkeling dan 13 titik diving yang sudah didata oleh KLHK. Meski demikian, Wiratno mengatakan pihaknya akan melakukan konsultasi publik untuk menilai ketepatan zona pemanfaatan yang berlaku dalam aturan saat ini.
"Saya terbuka untuk diskusi dengan balai dan semua unsur masyrakat termasuk tokoh adat, agama, dan pelaku wisata. Dari diskusi ini kita bisa ketahui peluang-peluang apa saja yang ada," kata Wiratno.
"Karena di saat pandemi Covid-19 inilah kesempatan kita intuk mendorong pengembangan aktivitas diving di Labuan Bajo maupun Taman Nasional Komodo," tandasnya.
(Rizka Diputra)