“Sebagai manusia, kita membutuhkan rangsangan, perlu ada variasi dalam aktivitas kehidupan. Ketika hidup yang berulang, kurang stimulasi, kurang aktivitas akan berdampak pada kualitas tidur yang buruk,” kata Angela.
Rutinitas manusia yang rusak seperti inilah yang akhirnya memicu coronasomnia. Kegiatan seperti pergi ke bioskop, restoran, ataupun tempat lain yang dapat bertemu banyak orang tidak bisa dilakukan lagi. Setiap orang dituntut agar tetap menjaga jarak dan sebisa mungkin tidak keluar rumah.
“Covid-19 telah menyebabkan kecemasan yang sangat besar bagi banyak orang. Orang-orang khawatir terhadap pekerjaan mereka, anak-anak mereka, tentang sakit. Ada lebih banyak kecemasan, ketakutan dan depresi,” kata profesor kesehatan UC Davis di Internal Medicine Department, Kimberly Hardin.
Akibat dari kekhawatiran itu banyak orang yang tidak bisa tidur. Hal ini juga dapat merusak ritme sirkadian (siklus tidur-bangun) yang mengatur sel pada tubuh manusia.
(Ahmad Luthfi)