Banyak pelaku wisata yang terpaksa memberikan promosi besar-besaran demi bertahan dari gempuran pandemi Covid-19. Seperti yang dilakukan para pengusaha hotel di Bali yang nekat membanting rate harga hingga 70% demi menggaet wisatawan.
Lantas bagaimana dengan nasib para penyedia jasa tur dan open trip? Apakah mereka juga menerapkan strategi yang sama?
Menurut pengakuan Rachmat Julio, Founder Anjani Trip, untuk saat ini pihaknya masih memberlakukan rate atau tarif yang sama seperti sebelum Covid-19 melanda. Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi hal tersebut.
Sebagai salah satu penyedia jasa open trip di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, Julio mengatakan bahwa biaya maintenance kapal dan gaji para crew menjadi alasan utama mengapa dia tetap menerapkan rate yang sama.
Untuk kapal reguler Julio mematok harga mulai Rp2.4 juta per orang, sedangkan kapal phinisi Rp3.4 juta per orang. Sementara untuk menyewa 1 kapal phinisi secara keseluruhan wisatawan harus merogoh kocek senilai Rp40 juta.
Namun bila wisatawan memesan 3-4 pax, maka akan mendapat diskon Rp200 ribu per pax.
"Ratenya sama, tidak bisa kasih diskon jor-joran karena biaya maintenance kapal itu sangat mahal. Setiap hari harus stand by genset untuk memompa air. Kalau tidak ya kapal bisa tenggelam. Ditambah lagi harus gaji crew, dan kebutuhan saya sehari-hari. Agak sulit kalau mau bener-bener banting harga," ungkap Julio saat dihubungi Okezone via sambungan telefon, Senin 5 September 2020.
Lebih lanjut Julio menjelaskan, dirinya juga masih harus memikirkan kebutuhan tambahan penunjang protokol kesehatan. Mulai dari disinfektan spray, hand sanitizer, dan biaya laundry yang harus rutin dilakukan seusai trip.