Sejalan dengan hal tersebut, studi uji coba acak dilakukan di Jepang dan memperlihatkan bahwa berkumur tenggorokan dengan air ledeng 3 kali sehari secara signifikan mengurangi kejadian infeksi saluran pernapasan atas (ISPA).
Meski demikian, meskipun berkumur dengan larutan klorida atau air garam memiliki hasil yang positif, penelitian skala besar lebih lanjut diperlukan untuk menentukan konsentrasi klorida dan frekuensi berkumur yang ideal untuk mencapai harapan yang diinginkan.
"Berkumur ini hampir dikatakan gratis tetapi memiliki manfaat sosial dan ekonomi dari pengurangan ISPA yang sangat besar," tulis peneliti.
Tapi, untuk pasien dengan hipertensi dan penyakit ginjal, konsumsi garam yang berlebihan pun harus dihindari. Orang dengan refleks menelan tidak normal pun harus menghindari berkumur air garam untuk mencegah tersedak dan pneumonia aspirasi.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa berkumur air garam dapat mengurangi viral load di tenggorokan pasien ISPA. Ingat, ini hanya mengurangi bukan membasmi virus secara keseluruhan.
(Martin Bagya Kertiyasa)