Saat ini masyarakat ramai membicarakan peraturan terbaru PT KCI (Kereta Commuter Indonesia) yang menganjurkan penumpang tidak memakai masker scuba dan buff saat berada di dalam KRL (Kereta Rel Listrik) atau Komuter. Hal ini ditulis dalam unggahan PT KCI di akun Instagram resminya.
"Hindari pemakaian masker scuba atau buff yang hanya 5% efektif dalam mencegah risiko terpaparnya akan debu, virus, dan bakteri," tulis PT KCI dalam akun Instagram @commuterline yang dikutip Okezone pada Kamis (17/9/2020).
Dijelaskan pula, masker dengan bahan scuba (bahannya elastis) tidak cukup efektif menghalau virus saat digunakan. Selain masker scuba, masker buff pun tidak disarankan untuk dipakai di dalam kereta yang notabene selalu ramai.
Sementara itu, dalam unggahan tersebut pun dipaparkan jenis masker lain dan efektivitasnya dalam menangkal virus. Beberapa di antaranya: masker N95 punya efektivitas 95-100 persen, masker bedah (80-95%), masker FFP1 (80-95%), dan masker bahan 3 lapis (50-70%).
Baca Juga : 7 Aktivitas Ini Lebih Mudah Picu Seseorang Terinfeksi Covid-19
Deni Kurniadi Sanjaya, pakar kesehatan masyarakat dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran di Bandung, Jawa Barat, ikut menanggapi aturan tersebut. Deni mengatakan bahwa memakai kedua jenis masker tersebut lebih baik daripada tidak memakai masker sama sekali. Maka, menanggapi larangan pemakaian masker scuba dan buff bagi penumpang KRL, Deni Kurniadi Sanjaya, pakar kesehatan masyarakat dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, seperti dilansir BBC.com (Kamis 17/9/2020) menganjurkan KRL memberikan masker gratis untuk menggantikan masker scuba para penumpang.
"Menurut saya pakai masker scuba atau pakai masker kain itu adalah pendidikan tahap pertama, tahap berikutnya perlu ditingkatkan kualitasnya. Jadi ketika sudah terbiasa dan mau pakai masker, tinggal ditingkatkan, jangan diancam-ancam, jangan dijelek-jelekkan. Kalau begitu, nanti dia tidak pakai masker sekalian. Ketika ada orang pakai masker scuba, yang hanya satu (lapis) kain, yang dibilang oleh mereka tidak efektif, (sebaiknya) disediakan di KRL yang bagusnya seperti apa," ujar Deni.
Dalam penelitian yang ia lakukan April lalu, Deni mendapati sekitar "60-80 persen" masyarakat, dari berbagai kalangan, telah memakai masker.