Keberhasilan masyarakat menekan angka pertumbuhan Covid-19 di suatu daerah tak luput dari peran pemimpinnya. Seperti yang dilakukan Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo yang membahas gaya kepemimpinannya selama masa pandemi Covid-19.
Ia mengaku bahwa masa pandemi ini merupakan masa tersulitnya selama menjadi politisi. Hal itu ia tuangkan dalam Live Instagram "The Alpha Live" oleh HighEnd Magazine.
Bagi Gubernur Ganjar Pranowo yang telah menjabat pada periode keduanya ini, pemahaman kewaspadaan masyarakat Jawa Tengah terhadap COVID-19 sudah lebih baik. Meski begitu, penjagaan jarak bersosialisasi antar individu masih menjadi hal pertama yang paling sulit dilakukan oleh masyarakat dalam hal pencegahan penularan COVID-19. Ia menggunakan beberapa metode untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap COVID-19, salah satunya melalui dramatic video.
“Mulai ada dramatic video yang kita berikan. Umpamanya, ada cerita perempuan dari Jakarta orangtuanya meninggal, dia tidak bisa melayat, bahkan melihat jenazahnya tidak bisa. Nah, visualisasi seperti inilah yang membuat (pemahaman) orang lebih baik. Kemudian kita survei. Ternyata yang paling pertama mereka pahami adalah memakai masker. Kedua, cuci tangan. Yang sulit adalah jaga jarak, apalagi orang nongkrong,” ujarnya.
Baca juga: Mau Ikut Upacara 17 Agustus di Istana Merdeka? Nih Cara Daftarnya
Selain itu, sebagai langkah dalam menghadapi new normal, Ganjar mulai mengupayakan pemulihan ekonomi Jawa Tengah yang sempat terkena dampak situasi pandemi. Untuk kelompok usaha menengah besar, sudah mulai adanya insentif yang dibantu oleh perbankan, OJK, dan perpajakan.
Pengurangan jam kerja bagi perusahaan yang terdesak pun telah diizinkan. Di samping itu, Ganjar juga memberikan solusi terhadap karyawan-karyawan yang terkena PHK dengan adanya kartu prakerja dan pelatihan.
“Ayo, saya latih. Yang penting kamu punya passion, kamu punya minat, kamu punya pengetahuan. Kalau semuanya nggak punya, minat dulu deh. Minatnya apa, nanti saya latih. Lalu masuk ke dalam komunitas yang idenya sama. Nanti kita bantu,” tukasnya.
Bagi para pengusaha mikro, salah satu hal yang menjadi solusi bagi Ganjar adalah menjadi tempat pemasaran para UMKM tersebut. Di media sosialnya, ia membuka kesempatan untuk berpromosi bagi para pengusaha mikro yang kemudian diberi judul “Lapak Ganjar”.
“Saya terkejut kemarin di Salatiga ada ibu-ibu yang bekerja di perusahaan besar, kemudian resign, dia ingin jualan batik dan lurik, sudah siap pameran tiba-tiba ada (pandemi) COVID. Batik dan luriknya akhirnya diguntingin sama dia, dijaitin jadi masker saking marahnya, dibagiin ke rakyat secara gratis. Akhirnya dia ikut di Lapak Ganjar, dia senang ada manfaatnya, kemudian saya dikirimi. Menurut saya keren, (jadi) saya datangi ke Salatiga. Setelah itu, penjualannya naik 350%. Senang saya melihatnya,” jelasnya.
Disinggung mengenai pembukaan sekolah kembali di Jawa, Ganjar mengatakan ia belajar dari pengalaman negara lain yang memunculkan klaster baru setelah dibukanya sekolah-sekolah. Meski sudah tidak berada di zona merah, perlu adanya pertimbangan dan simulasi serta pengadaan fasilitas sesuai dengan protokol kesehatan.
“Syaratnya daerah itu bukan daerah merah. Kemudian disiapkan sejak anak berangkat sekolah, nggak usah ada istirahat, kemudian disiapkan sarana prasarana kesehatan, lalu tenaga medisnya. Setelahnya, uji cobakan itu. Saya akan izinkan dalam (jumlah) terbatas. Maka jika nanti anak-anak bosan, boleh masuk sekali-dua kali sekaligus kita observasi tapi syaratnya, ada perizinan orang tua,” ucap beliau.