Dia memaparkan, setiap selebriti itu punya pengikutnya yang berbeda. Karena itu, diharapkan cara menyampaikannya pun berbeda, tidak bisa disamaratakan.
"Subjek itu tidak mungkin bisa meratakan. Jadi, harus dipahami benar-benar. Lalu, subjek itu partikularistik, maskudnya si selebriti itu punya komunitas yang mana di dalamnya punya subkultur yang berbeda, tingkat pendidikan yang berbeda, idiom-idiom percakapan yang berbeda," ungkapnya.
Prof Bagong menambahkan, agar kebiasaan baru ini benar-benar dijalankan masyarakat, termaksud dengan bantuan selebriti. Menurutnya, perlu mengubah kebiasaan baru ini menjadi budaya, maka dari itu diperlukan pendekatan yang berbasis lifestyle.
"Pemberian reward dan punishment juga akan efektif untuk membudayakan kebiasaan baru pada masyarakat," pungkasnya.
(Helmi Ade Saputra)