Masalah seolah datang bertubi-tubi, meski 9 warga telah dinyatakan positif, mereka mengaku belum menerima bantuan dari otoritas Nikaragua dalam upaya panjang mereka untuk pulang. Laguna mengatakan bahwa hal ini bisa saja terjadi akibat aksi protesnya yang dilakukan pada 2018 lalu.
“Ini mungkin karena saya membentangkan spanduk pada upacara di tahun 2018. Spanduk itu berisikan protes kami terhadap pemerintah Nikaragua,” ujarnya.
Sekadar informasi, pada April 2018 lalu, kondisi ekonomi Nikaragua memang sempat hancur akibat kerusuhan yang berlangsung hingga lima bulan lamanya. Gejolak politik ini dipicu oleh pemotongan tunjangan jaminan sosial yang dilakukan oleh Presiden Daniel Ortega.
Masyarakat Nikaragua pun akhirnya melakukan aksi protes besar-besaran dan menuntut agar Ortega diturunkan dari jabatan presiden. Setidaknya 325 orang dilaporkan tewas dalam protes tersebut.
(Helmi Ade Saputra)