Pandemi Covid-19 belum juga usai, dan sepertinya masih jauh dari kata berakhir. Salah satunya karena vaksin Covid-19 belum juga ditemukan.
Pandemi Covid-19 tak kunjung usai ini menimbulkan dampak tak hanya di bidang kesehatan, tetapi juga melumpuhkan ekonomi global. Selain itu, pandemi Covid-19 juga membuat masyarakat dunia memiliki kebiasaan baru terkait protokol kesehatan pencegahan persebaran Covid-19.
Dr Sawedi Muhammad SSos MSc melihat risiko pandemi Covid-19 memiliki tiga karakteristik, yaitu delokalisasi (Covid-19 tidak mengenal lokasi), incaltulate risk (biaya pandemi Covid-19 tidak dapat dihitung), dan non-compensability (tidak ada yang mampu memberi kompensasi).
“Ini kaitannya dengan ketakutan, kecemasan, stres, dan emosi. Risiko pandemi Covid-19 adalah risiko umat manusia, bukan hanya agama, ras, dan suku tertentu, ini menjadi bencana global," urai sosiolog Universitas Hasanuddin ini dalam diskusi online “Cerdas Mengelola Stres dan Emosi”, dikutip dari Sindonews.com.
Menurut dia, kita harus merumuskan langkah-langkah cerdas dalam memanajemen risiko sehingga tidak larut dalam kesedihan, bahkan ketakutan yang berlebihan.
Beberapa langkah yang dimaksud yakni memiliki pemahaman yang utuh dan komprehensif, mengenali kondisi kita dan orang-orang di sekitar, merekonsiliasi ketakutan dengan penerimaan terhadap situasi yang tidak pasti, optimistis bahwa pandemi ini pasti akan selesai, dan menghindari informasi yang tidak jelas.
"Yang tidak kalah penting adalah berkontribusi dalam hal apa pun yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko yang mampu menghindarkan kita dari stres, emosi, cemas, dan ketakutan," paparnya.
Ketika manusia berada dalam situasi krisis, manusia tidak dapat langsung menerimanya, tetapi melewati lima tahapan terlebih dulu. Dimulai dari penyangkalan atau melawan terhadap realitas, diikuti rasa marah terhadap situasi, tawar-menawar, kemudian depresi yang jika tidak diobati akan menyebabkan tindakan fatalistik.
Barulah masuk ke tahapan menerima situasi. "Tahapan yang paling ideal ada meaning, di mana kita memaknai bahwa situasi yang terjadi adalah evaluasi terhadap diri sendiri," ungkapnya.
Baca Juga : Sebelum Meninggal, Legenda Iklan RCTI Noor Farida Berjuang dari Penyakit Hipertensi
Pada kesempatan itu, Sarwedi memberi catatan, pemerintah sebagai institusi yang paling kompeten dan paham terhadap situasi pandemi Covid-19 sedianya harus memberikan informasi yang transparan dan berdasarkan paradigma sains.
Pemerintah juga harus mendisiplinkan diri terhadap kebijakan yang dibuat. Jika masyarakat tidak puas dan tidak percaya terhadap kebijakan pemerintah, masyarakat akan mengalami public distress, bahkan akan memunculkan gerakan sosial (social movement).
(Helmi Ade Saputra)