PANDEMI virus corona Covid-19 masih belum menemukan titik terang hingga saat ini. Para penelti masih berjuang mencari obat maupun vaksin untuk menyembuhkan penyakit ini.
Sebelumnya, pemerintah telah menyebutkan beberapa nama yang menjadi kandidat obat untuk menyembuhkan Covid-19. Sayangnya masih belum ada bukti nyata tentang keefektifan obat-obat tersebut.
Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dr. Daeng Mohammad Faqih, SH, MH mengatakan bahwa corona Covid-19 adalah virus baru. Bahkan semua pihak termasuk para ahli dan pakar masih mempelajari dengan baik tentang virus ini.
“Jadi mulai gejala, cara penularan sifatnya dinamis. Sebenarnya bukan tidak konsisten atau berubah-ubah. Tapi karena ini baru, sedikit diketahui kemudian akan terjadi perkembangan atau dinamika yang terus menerus terjadi,” terang dr. Daeng dalam Live Streaming Edukasi Online Studi In Vitro Betadine, Senin 1 Juni 2020.
Dokter Daeng mengatakan, perubahan tersebut akan terus terjadi, termasuk perubahan dalam penanganan. Penanganan untuk Covid-19 berdasar pada obat yang spesifik atau lebih dikenal sebagai Drug of Choice dalam istilah kedokteran dalam upaya membunuh virus.
“Obat dan vaksinnya juga belum ditemukan. Artinya kami akan punya prinsip dalam dunia kedokteran bahwa apa yang kita kerjakan harus diferrent based. Tapi karena Covid-19 ini virus baru, obat yang spesifik dari diferrent base belum ditemukan, maka penanganan yang dilakukan kepada virus ini sifatnya adalah empirical based,” lanjutnya.
Meski demikian, empirical based yang digunakan ini juga tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Semuanya dilakukan mengikuti apa yang disetujui dan direkomendasi oleh World Health Organization (WHO).
“Dulu antivirusnya Avigan, sekarang muncul Remdesivir misalnya. Chloroquin dulu dipake sekarang diminta ditarik. Memang seperti itu kondisinya karena secara evidence based penelitian belum ditemukan. Oleh karena itu, tindakan yang paling bijaksana adalah mencegah supaya kita tidak tertular,” tuntasnya.
(Dewi Kurniasari)