COVID-19 Bisa Sebabkan Komplikasi yang Ancam Nyawa Pasien

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis
Kamis 14 Mei 2020 10:30 WIB
Ilustrasi pasien corona (Foto : National Review)
Share :

Seorang ahli bedah vascular di Pomona, New York, dr. Sean Wengerter menjelaskan kondisi seorang pasien berusia 38 tahun yang mengalami komplikasi akibat terinfeksi virus corona COVID-19. Menurutnya pasien tersebut dalam kondisi baik-baik saja dalam kurun waktu 10 hari pertama infeksi.

Dokter Wengerter mengatakan pasien tersebut memiliki gejala seperti sakit paru-paru ringan dan hanya bisa duduk di rumah. Tapi pasien tersebut didiagnosis positif COVID-19 saat menjalani pemeriksaan di klinik perawatan darurat meskipun keadaannya cenderung baik-baik saja dan hanya menunjukkan gejala batuk kecil.

“Tiba-tiba salah satu efek mengejutkan COVID-19 muncul. Pasien bangun dengan kedua kakinya mati rasa dan kedinginan serta sangat lemah sehingga dia tidak bisa berjalan,” terang dr. Wengerter, sebagaimana dilansir CNN, Kamis (14/5/2020).

Pasien berjenis kelamin pria ini diketahui memiliki oklusi aorta (gumpalan darah) berukuran besar di arteri utama tubuh. Gumpalan tersebut terbagi menjadi dua bagian dan mengarah ke setiap kaki. Akibatnya darah tidak masuk ke dalam arteri iliaka yang membuat kakinya menjadi bermasalah.

Menurut Wengerter ini adalah perkembangan yang sangat berbahaya dan dapat membunuh sekira 20 sampai 50 persen pasien. Padahal kondisi seperti ini biasanya tidak terjadi pada kelompok usia 38 tahun.

Melihat kondisi ini, dr. Wengerter melakukan diagnosis cepat dan melakukan pembedahan untuk memotong arteri dan mengambil bekuan darah menggunakan kateter untuk menyelamatkan nyawa pasien.

“Kami memiliki dua ahli bedah yang bekerja secara simultan padanya,” terang dr. Wengerter.

Asisten Profesor Tim Bedah Perawatan Akut Universitas Florida, dr. Scott Brakenridge yang juga merawat pasien COVID-19 melihat sejumlah sindrom aneh dan menakutkan termasuk pembekuan darah di semua tubuh termasuk gagal ginjal, peradangan jantung dan komplikasi kekebalan tubuh.

“Satu hal yang membuat penasaran sekaligus frustrasi adalah penyakit ini memanifestasikan dirinya dalam banyak cara yang berbeda. Dalam beberapa kasus penyakit ini memiliki efek parah pada kemampuan pasien untuk bernafas dan dalam kasus lain COVID-19 terkait dengan kegagalan multi sistem organ,” terang Brakenridge.

Saat ini COVID-19 dikaitkan sebagai virus pernapasan, alhasil ini akan memengaruhi beberapa organ dalam tubuh pasiennya. Salah satu gejala infeksi yang paling jelas adalah gejala pernapasan seperti demam, pneumonia dan sindrom gangguan pernapasan akut. Selain itu virus ini juga menyerang beberapa organ secara langsung.

Salah satu yang paling mengkhawatirkan adalah serangan pada lapisan pembuluh darah yang menyebabkan pembekuan darah yang tidak wajar.

“Virus COVID-19 menciptakan respon peradangan lokal yang mengarah pada beberapa kejadian trombotik. Ini terjadi karena aksi langsung virus di dalam arteri,” ujar dr. Wengerter.

Tim dokter lain melaporkan bahwa stroke yang tidak biasa terjadi pada pasien yang lebih muda. Ada pula yang mengalami emboli paru yang merupakan pembekuan darah di paru-paru. Ahli patologi, dr. Oren Friedman menemukan gumpalan darah kecil pada pembuluh darah terkecil setelah merawat pasien COVID-19 di unit perawatan intensif Cedars-Sinai Medical Center, Los Angeles.

“Tidak ada perdebatan, virus tampaknya memengaruhi trombosis dan tampaknya secara langsung memengaruhi pembuluh darah manusia.Jelas setiap organ dalam tubuh manusia diberi makan oleh darah. Jika virus memengaruhi pembuluh darah maka Anda dapat mengalami kerusakan organ,” terang dr. Oren.

Salah satu sindrom paling menakutkan yang mungkin terkait dengan COVID-19 adalah ‘Sindrom Inflamasi Multisistemik Pediatrik’. Walikota New York City, Bill de Blasio melaporkan terdapat 52 kasus COVID-19 pada awal pekan ini. sementara Departemen Kesehatan Negara Bagian New York mengatakn sedang menyelidiki 100 kasus lainnya.

Ahli Reumatologi Rumah Sakit Anak Boston, dr. Mary Beth Son mengatakan gejala COVID-19 pada anak ditandai dengan demam persisten, peradangan, fungsi yang buruk di satu atau lebih organ dan gejala lain yang menyerupai syok.

“Dalam beberapa kasus, anak-anak mengalami syok dan memiliki ciri penyakit seperti Kawasaki, sementara yang lainnya ditandai dengan sindrom badai sitokin. Di beberapa wilayah geografis, ada peningkatan dalam kasus-kasus penyakit Kawasaki pada anak-anak yang tidak memiliki syok,” terang dr. Mary.

Penyakit Kawasaki ini menyebabkan peradangan pada dinding arteri yang berukuran sedang dan dapat merusak jantung. Ini bisa terjadi disebabkan oleh respon kekebalan tubuh yang dikenal dengan nama badai sitokin.

“Sistem kekebalan tubuh seseorang bereaksi berlebihan terhadap virus dan karena ini penyakit radang , reaksi berlebihan dapat menyebabkan penyakit seperti Kawasaki,” ungkap Dokter Anak di Pomona, New Jersey, dr. Glenn Budnick.

Ahli Jantung Anak sekaligus Ahli Penyakit Kawasaki, dr. Jane Newburger mengatakan antibodi yang muncul pada anak terhadap SARS-CoV2 bisa menciptakan reaksi kekebalan dalam tubuh. Badai sitokin dapat menyebabkan beberapa kerusakan paru dan pembekuan darah yang tidak biasa.

(Helmi Ade Saputra)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya